Risiko Kredit BRI Turun, Biaya Kredit Susut Jadi 3,1%
Jakarta, CNBC Indonesia — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat perbaikan kualitas kredit pada semester I-2026. Penurunan risiko kredit tersebut tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) serta loan at risk (LAR) yang membaik. Kondisi ini turut mendorong penurunan cost of credit (CoC) perseroan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan NPL BRI pada semester I-2026 turun menjadi 2,9%, dari 3,0% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan kualitas kredit tersebut juga tercermin pada CoC. Hery menyebut CoC BRI turun menjadi 3,1%, dari 3,4% pada semester I-2025.
"Dari sisi NPL membaik 3% jadi 2,9%, tercermin CoC menurun cukup signifikan, 3,4% jadi 3,1%," ujar Hery dalam konferensi pers paparan kinerja BRI semester 1 2026, Senin (31/8/2026).
Penurunan CoC menunjukkan biaya yang harus ditanggung BRI untuk mengantisipasi risiko kredit semakin terkendali. Perbaikan ini menjadi penting karena terjadi di tengah pertumbuhan penyaluran kredit yang kembali menguat.
Selain NPL, indikator kualitas aset yang lebih luas juga menunjukkan perbaikan. Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengatakan LAR BRI turun signifikan dalam enam bulan pertama 2026 menjadi 9,1%.
Menurut Ety, perbaikan NPL dan LAR menunjukkan strategi manajemen risiko yang diterapkan perseroan membuahkan hasil. BRI memperkuat early warning system (EWS) sekaligus mengoptimalkan proses recovery kredit.
"Penurunan NPL menunjukkan strategi BRI berjalan efektif. Di belakang kami melakukan penguatan EWS dan mengoptimalkan recovery," kata Ety.
Dia menjelaskan, LAR menjadi salah satu indikator yang digunakan BRI untuk melihat kualitas kredit secara lebih luas. Penurunan LAR dalam enam bulan pertama tahun ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas kredit sejak proses pemberian atau booking kredit.
"Hasil dari kualitas kredit terlihat LAR sebagai indikator lebih dari NPL, rasio LAR turun signifikan dalam enam bulan jadi 9,1%. Penurunan ini menunjukkan perbaikan kredit booking, CoC turun jadi 3,1%," ujar Ety.
Sementara itu, perbaikan kualitas aset tersebut terjadi ketika BRI kembali mencatat pertumbuhan kredit yang kuat. Pada semester I-2026, kredit dan pembiayaan BRI mencapai Rp1.646 triliun, tumbuh 16,2% secara tahunan.
Meski ekspansi kembali menguat, manajemen memastikan prinsip kehati-hatian tetap menjadi bagian penting dalam strategi pertumbuhan.
(mkh/mkh)