Buka-Bukaan, Begini Strategi Danantara Poles Kinerja BUMN Farmasi

Elga Nurmutia, CNBC Indonesia
Kamis, 27/08/2026 17:21 WIB
Foto: CNBC INDONESIA

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara terus berupaya melakukan transformasi di perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah ini ditempuh Danantara guna menyehatkan kinerja keuangan dan meningkatkan daya saing perusahaan, khususnya BUMN Farmasi.

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria menyampaikan, masalah yang dihadapi oleh BUMN farmasi sebelum adanya Danantara antara lain investasi pabrik, utilisasi rendah, beban utang tinggi, hingga persoalan jaringan apotek.

Bahkan dirinya mengaku bahwa pada saat Danantara melakukan transformasi, kondisi PT Kimia Farma Tbk tergolong memprihatinkan. Sebab, posisi keuangan perusahaan tersebut sedang tidak sehat lantaran adanya keputusan investasi yang tidak mempertimbangkan tingkat pengembalian (return on investment).


"Yang disebabkan oleh tadi investment yang berlebihan. Investasi yang tidak diukur return on investment. Mereka membangun pabrik yang besar banyak dengan utilisasi yang rendah. Akibat pabrik investasinya begitu besar di pabrik ini tentu ada financing costnya melalui utang dan ada depresiasinya menyebabkan perusahaan rugi, sementara utilisasinya cuma 40%," kata Dony dalam Squawk Box CNBC Indonesia, Kamis (27/8/2026).

Masalah juga menimpa anak usaha Kimia Farma yaitu PT Kimia Farma Apotek yang memiliki lebih dari 1.000 apotek. Sebelumnya, Kimia Farma Apotek sempat menerima investasi Rp 1,5 triliun dari Indonesia Investment Authority (INA) bersama mitra asal China. Akan tetapi, ketika dilakukan proses verifikasi, muncul persoalan pada data inventory atau persediaan.

"Dalam perjalanannya, data yang disajikan oleh Kimia Farma Apotek itu datanya palsu. Karena datanya palsu, tentu investor ini komplain. Palsu itu bagaimana? Seluruh investory, Anda bisa bayangkan kita punya 1.000 lebih apotek itu datanya, persediaannya itu manual, tidak bisa diverifikasi. Waktu mereka melakukan verifikasi, datanya itu bohong semua," ungkap Dony.

Pada akhirnya, masalah tersebut berujung pada sengketa dengan investor. Dari situ, Kimia Farma memiliki kewajiban untuk mengembalikan investasi sekaligus denda dan biaya lainnya. Alhasil, Danantara mendorong restrukturisasi dengan mengganti manajemen serta membenahi sistem teknologi informasi di Kimia Farma Apotek.

Dalam rangka menyelamatkan Kimia Farma, Danantara juga melakukan equity injection atau injeksi ekuitas sekaligus restrukturisasi utang. Upaya ini akhirnya mulai memberikan hasil karena Kimia Farma telah mencatatkan keuntungan tahun ini.

Dony melanjutkan, Kimia Farma juga menghadapi persoalan keterbatasan keuangan yang berdampak pada pengurangan jumlah produk yang diproduksi. Saat ini, Kimia Farma hanya memproduksi 99 produk terkait farmasi saja. Di samping itu Kimia Farma juga memperkuat nilai tambah produk yang telah ada agar bisnisnya tidak terus mengalami penyusutan.

"Saya bilang ini kalau diteruskan, ini bisa menjadikan perusahaannya itu mati pelan-pelan. Sehingga kita melakukan equity injection di Kimia Farma holdingnya dan juga selain kita melakukan equity injection, kita juga melakukan rekturisasi hutangnya mereka. Sehingga dari proses transformasi ini, tahun ini Kimia Farma sudah untung. Artinya apa? Transformasi yang kita lakukan secara fundamental, itu menyebabkan perusahaannya sekarang masuk ke dalam posisi yang baik," terang dia.

Di lain pihak, kondisi Indofarma dinilai berbeda. Skala bisnis, kapasitas produksi, produk unggulan, serta kondisi utang dan aset Indofarma dinilai sudah tidak cukup kuat untuk menopang keberlangsungan bisnis perusahaan tersebut secara mandiri.

Lantas, Danantara menyiapkan parameter khusus untuk menentukan perusahaan BUMN mana yang masih dapat diselamatkan dan yang harus dilikuidasi. Dony menyebut langkah tersebut merupakan bagian dari penataan ribuan perusahaan di lingkungan BUMN agar struktur bisnisnya menjadi lebih sehat dan efisien.


(dpu/dpu)
Saksikan video di bawah ini:

Video: RI Wujudkan Ambisi Bangun Aset Manajemen Berstandar Global