MARKET DATA

Jalani Tes Calon Deputi Gubernur BI, Ini Visi Besar Solikin M. Juhro

Mentar Puspadini,  CNBC Indonesia
27 August 2026 16:02
Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M. Juhro saat menjalani Uji Kelayakan atau Fit and Proper Test di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M. Juhro saat menjalani Uji Kelayakan atau Fit and Proper Test di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro menekankan pentingnya bagi BI mengatasi apa yang disebutnya sebagai "trilema keberlanjutan", yakni upaya mencapai stabilitas ekonomi yang dinamis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan ekonomi yang inklusif secara bersamaan.

Hal ini ia ungkapkan saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan alias fit and proper test calon deputi gubernur BI di Komisi XI DPR, Kamis (27/8/2026), menggantikan posisi Aida S Budiman yang dicalonkan Presiden Prabowo Subianto sebagai deputi gubernur senior BI.

Menurut Solikin, selama ini kebijakan ekonomi kerap dihadapkan pada pilihan yang dianggap dilematis, seperti antara pertumbuhan dan stabilitas atau antara inklusivitas dan efisiensi. Namun, berdasarkan pengalamannya selama 32 tahun bekerja di bank sentral, ketiga aspek tersebut justru saling memperkuat satu sama lain.

"Stabilitas memungkinkan pertumbuhan, pertumbuhan memperluas kesempatan kerja, dan inklusivitas memperkuat basis ekonomi dan sosial. Pada akhirnya, basis ekonomi yang semakin kuat akan kembali memperkokoh stabilitas. Jadi ketiganya saling memperkuat satu sama lain," ujar Solikin dalam fit and proper test di hadapan Komisi XI DPR RI.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Solikin menawarkan delapan strategi yang dirangkumnya dalam konsep "SEMANGKA Nusantara versi dua". Strategi tersebut dibagi menjadi tiga lapisan utama, yakni S-E-M-A sebagai jangkar kebijakan, N dan G sebagai mesin transformasi, serta K-A sebagai pengungkit implementasi.

Huruf S dalam SEMANGKA merupakan Stabilitas Dinamis untuk Pertumbuhan Berkelanjutan, yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas ekonomi sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang. Sementara huruf E berarti Efektivitas Kebijakan Moneter dan Operasi Moneter yang Pro Market, dengan arah kebijakan yang lebih responsif terhadap perkembangan pasar.

Selanjutnya, huruf M merujuk pada Makroprudensial Adaptif, Inovatif, dan Pro Growth untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Adapun huruf A berarti Akselerasi Pendalaman Pasar Keuangan, yang menjadi salah satu fokus untuk memperkuat struktur dan likuiditas pasar keuangan domestik.

Huruf N dalam SEMANGKA adalah Navigasi Ekonomi dan Keuangan Inklusif, Termasuk UMKM, yang menekankan perluasan akses ekonomi dan keuangan bagi berbagai lapisan masyarakat. Kemudian, huruf G berarti Gerak Cepat Digitalisasi Sistem Pembayaran sebagai respons terhadap pesatnya transformasi teknologi di sektor keuangan.

Sementara itu, huruf K mengusung strategi Kelembagaan BI yang Kredibel dan Berkelola Baik untuk memperkuat tata kelola dan kepercayaan terhadap bank sentral. Terakhir, huruf A merujuk pada Aksi Bersama dan Sinergi Kebijakan Nasional, yang menekankan pentingnya koordinasi antara BI dan pemangku kebijakan lainnya dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Hal ini pun dinilai sejalan dengan semangat Soemitronomics yaitu membangun kekuatan ekonomi dari dalam, memperkuat fondasi struktural, dan memastikan setiap kebijakan bermuara pada kesejahteraan rakyat banyak.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ini Daftar Calon Deputi Gubernur Senior & Deputi BI Pilihan Prabowo


Most Popular
Features