Rupiah Ditutup Melemah, Dolar AS Naik Jadi Rp17.705

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Senin, 24/08/2026 15:07 WIB
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (24/8/2026). Pelemahan ini juga mengakhiri penguatan rupiah dalam tiga hari perdagangan beruntun.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,17% atau terdepresiasi ke level Rp17.715/US$.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sejatinya sempat dibuka menguat 0,03% ke level Rp17.680/US$ pada pembukaan perdagangan pagi tadi. Namun, mata uang Garuda kemudian berbalik arah dan melemah 25 poin dari posisi pembukaan hingga penutupan.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,17% ke posisi 98,969. Penguatan DXY membesar dibandingkan posisi pagi tadi yang hanya naik 0,03%.

Rupiah melemah seiring dolar AS yang berbalik menguat pada perdagangan hari ini. Data aktivitas jasa AS yang mencatat pertumbuhan terkuat dalam hampir dua tahun menjadi salah satu faktor yang menahan aksi jual terhadap greenback.

Dolar juga mendapat dukungan dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield obligasi jangka panjang masih berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa dekade akibat kekhawatiran terhadap utang pemerintah, tekanan inflasi, dan kebutuhan pembiayaan yang meningkat.

Namun, penguatan dolar masih terbatas karena pasar mencermati rencana Departemen Keuangan AS meningkatkan pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah jangka panjang. Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa upaya menekan yield justru dapat membebani dolar.

Pelaku pasar juga menantikan rincian sanksi baru AS terhadap Iran serta pidato Ketua The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat mendatang. Pernyataan Warsh akan dicermati untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga AS.

Selain itu, rupiah juga masih dibayangi pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia. Pada kuartal II-2026, defisit transaksi berjalan membengkak menjadi US$12,49 miliar, dari US$3,58 miliar pada kuartal sebelumnya.

Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menilai pelebaran defisit transaksi berjalan akan meningkatkan kebutuhan Indonesia terhadap aliran dana asing untuk menutup pembiayaan eksternal. Kondisi tersebut membuat ruang penguatan rupiah terbatas dan pergerakannya rentan bergejolak.

Menurut Irman, level Rp18.000/US$ masih mungkin kembali diuji apabila tekanan global meningkat atau aliran modal asing tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan eksternal.

"Baseline kami masih melihat USD/IDR akhir tahun di kisaran Rp17.900-18.150, sehingga Rp18.000 bukan merupakan tail-risk scenario, tetapi masih berada dalam range fundamental kami," tuturnya.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Makin Perkasa & Menguat ke Rp 17.700-an per Dolar AS