Resmi Dibentuk, Asosiasi Bank Emas RI Mau Buat Gold Hub

Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
Kamis, 20/08/2026 14:35 WIB
Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi pelaku bulion nasional yang bernama Indonesia Bullion Market Association (IBMA) telah resmi dibentuk. Peresmian IBMA dilakukan di BSI Tower pada Kamis (20/8/2026).

Ketua Umum IBMA Selfie Dewiyanti menjelaskan bahwa pihaknya telah menyusun prioritas program IBMA yang mulai dari jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.


Untuk jangka pendek, IBMA fokus di tahun ini hingga tahun depan, yakni untuk membangun literasi dan edukasi, terutama untuk publikasi. Kemudian IBA juga melakukan kajian regulasi yang puncaknya adalah gelaran acara Indonesia Gold Expo, yang akan mempertemukan semua pelaku industri ekosistem bullion nasional.

Selanjutnya, IBMA ingin mendirikan Indonesia Gold Hub. Selfie mengatakan pendirian itu akan mengundang beberapa asosiasi dari global.

"Kita akan membuat konektivitas pasar lintas negara dan penyelarasan standar bullion dengan standar internasional," tutur Selfie saat peresmian IBMA di BSI Tower, Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, IBMA dibentuk sebagai wadah koordinasi pelaku ekosistem emas nasional dan mitra strategis pemerintah. Dalam hal ini, IBMA akan berperan sebagai jembatan antara pelaku industri, regulator, menampung aspirasi, wadah kolaborasi, dan tentunya memberikan masukan kepada regulator. Di sisi lain, regulator nantinya hadir untuk merumuskan aturan dan mengawal ekosistem ini sendiri sehingga bullion di Indonesia terus menguat dan berkelanjutan.

Kesebelas perusahaan pendiri yang mulai dari bidang pertambangan, kemudian jasa keuangan, refinery dan manufaktur, ritel, hingga sektor pendukung.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan IBMA harus mendorong bagaimana traceability dari supply chain emas, agar bisa terus ditingkatkan.

Airlangga menilai standar data dan traceability ini menjadi tantangan karena sebagian dari pertambangan emas masih ada yang ilegal, melalui beberapa tambang-tambang yang tidak berizin.

"Nah pengalaman pemerintah, kita mempunyai resource yang sangat kaya, namun kita tidak punya ekosistem yang utuh, dan salah satu yang mempunyai ekosistem yang utuh adalah di sektor emas," ujarnya.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Telkom Rampingkan Anak Usaha, Dari 68 Jadi 18 Entitas