MARKET DATA

1.800 Ton Emas Warga RI di Bawah Bantal, Lampaui Stok BI-India

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
20 August 2026 11:45
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Economic Update CNBC Indonesia, Senin (29/06/2026). (CNBC Indonesia TV)
Foto: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Economic Update CNBC Indonesia, Senin (29/06/2026). (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Stok emas masyarakat Indonesia yang tersimpan di bawah bantal alias belum masuk ke sistem keuangan Indonesia, mampu menyaingi stok emas resmi negara-negara besar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mencatat, setidaknya ada 1.800 ton emas masyarakat Indonesia yang belum tersimpan di lembaga jasa keuangan pemilik layanan bullion bank.

Jumlah itu menurutnya bisa membuat Indonesia menjadi negara dengan stok emas ketiga terbesar, bila ditempatkan di sistem keuangan. Di bawah Amerika Serikat (AS) yang sebanyak 8.133 ton dan China 1.800 ton.

"Karena kalau kita lihat Amerika punya stok emas 8.133 ton, kemudian China 2.331. Kalau Indonesia 1.800, itu udah langsung di bawah mereka semua," kata Airlangga dalam acara Peluncuran Indonesia Bullion Market Association di Monas Grand Ballroom BSI Tower, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

"India 880 ton, dan Singapura tentu punya juga relatif lebih rendah dari itu," tegas Airlangga.

Ia mencatat, stok emas masyarakat Indonesia yang bersemayam di bawah bantal itu bahkan jauh lebih tinggi dibanding Bank Indonesia, yang hanya sebesar 70 ton.

"memang dari BI kita juga masih rendah, baru 70 ton di Bank Indonesia," ujar Airlangga. 

Lalu, lembaga jasa keuangan pemilik layanan bullion, seperti Bank Syariah Indonesia (BSI) hanya mengelola sekitar 20 ton emas, dan Pegadaian 153 ton.

Oleh sebab itu, Airlangga meminta dua lembaga jasa keuangan yang telah memiliki layanan bullion itu untuk mencari cara membuat masyarakat percaya menitipkan aset emasnya.

"Jadi bagaimana tugasnya dari Pegadaian maupun BSI yang US$ 252 billion ini mungkin 20% nya saja pindah dari ditaruh di bawah bantal, ditaruh ke instrumen keuangan ataupun instrumen perbankan syariah maupun Pegadaian," tutur Airlangga.

Sebanyak 1.800 ton emas itu menurut Airlangga memiliki nilai sebesar US$ 252 miliar, atau bila dikonversi ke nilai tukar rupiah setara Rp 4.483,02 triliun.

"Emas yang ada di bawah bantal, itu ada 1.800 ton. Nah, kalau 1.800 ton, itu nilainya juga luar biasa, US$ 252 miliar," kata Airlangga.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pemerintah RI Minta 2 Lembaga Tarik 1.800 Ton Emas dari Bawah Bantal


Most Popular
Features