Harga Minyak Naik 4 Hari Beruntun!

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
Rabu, 19/08/2026 10:20 WIB
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (19/8/2026), didorong kekhawatiran terhadap pasokan global setelah ketidakpastian mengenai kondisi Selat Hormuz kembali meningkat.

Mengacu data Refinitiv pada Rabu (19/8/2026) pukul 09.20 WIB, harga minyak Brent berada di US$91,90 per barel, naik 0,97% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di US$91,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,08% menjadi US$85,86 per barel dari posisi US$84,94 per barel.

Kenaikan tersebut memperpanjang reli harga minyak menjadi empat hari perdagangan beruntun. Dibandingkan penutupan 7 Agustus, Brent telah melonjak sekitar 10%, sedangkan WTI menguat hampir 10%. Kedua kontrak kini berada di level tertinggi sejak 24 Juli.


Penguatan harga terjadi ketika pelaku pasar kembali mengevaluasi prospek pasokan minyak dari Timur Tengah. Harapan tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran memudar setelah Presiden Donald Trump menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka. Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Iran yang masih menyebut jalur pelayaran strategis itu belum kembali normal.

Gencatan senjata sementara diketahui telah berakhir pada Senin. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya tengah mengambil langkah lanjutan di tengah kebuntuan diplomatik, meski hingga Selasa belum terdapat laporan mengenai serangan baru.

Risiko terhadap distribusi minyak mendorong sejumlah negara dan perusahaan mulai menyiapkan jalur alternatif. Pemerintah Irak telah menyetujui mekanisme ekspor minyak mentah melalui beberapa perusahaan internasional maupun domestik serta memanfaatkan berbagai pelabuhan ekspor. Skema tersebut berlaku selama tiga bulan mulai 1 September.

Di sisi lain, dua perusahaan pelayaran besar China menghentikan pengiriman kapal tanker melalui Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb. Muatan minyak kini dikumpulkan di luar kawasan Teluk sebagai langkah mitigasi risiko keamanan. Perubahan rute tersebut berpotensi memperpanjang waktu pengiriman dan meningkatkan biaya logistik minyak global.

Dari sisi fundamental, pasokan minyak di Amerika Serikat juga memberi dukungan terhadap harga. Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah dan distilat turun pada pekan lalu, sementara stok bensin meningkat. Penurunan stok minyak mentah mengindikasikan pasokan domestik yang lebih ketat.

Pasar kini menunggu data resmi Energy Information Administration (EIA), dengan analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS kembali berkurang sekitar 600 ribu barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus.

Dengan kombinasi risiko geopolitik di Timur Tengah, penyesuaian jalur distribusi minyak, dan ekspektasi penurunan stok minyak AS, premi risiko di pasar energi masih bertahan. Selama belum ada kepastian mengenai normalisasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi.

CNBC Indonesia Research


(emb/emb)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Batubara Tertekan Efek Pasokan India Naik-Harga Minyak Melonjak