Rupiah Menguat Pagi Ini, Dolar AS Turun ke Rp17.830

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Rabu, 19/08/2026 09:04 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Rabu (19/8/2026), rupiah terapresiasi 0,11% ke posisi Rp17.830/US$.

Penguatan tersebut membalikkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, Selasa (18/8/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 0,17% ke level Rp17.850/US$.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,03% ke posisi 99,688.

Pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi penantian terhadap keputusan BI serta dinamika ekspektasi suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

BI memasuki hari kedua RDG periode 18-19 Agustus 2026. Keputusan mengenai BI Rate akan diumumkan pada Rabu hari ini.

Hasil polling CNBC Indonesia terhadap 14 institusi dan lembaga menunjukkan seluruh responden memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75%. Tidak ada responden yang memproyeksikan kenaikan ataupun penurunan suku bunga pada bulan ini.

Jika proyeksi tersebut terwujud, BI akan menahan suku bunga dalam dua pertemuan beruntun. Bank sentral sebelumnya juga mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% pada RDG Juli 2026.

Keputusan tersebut akan memperpanjang jeda setelah BI menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang Mei-Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%. Kenaikan saat itu ditempuh untuk meredam tekanan terhadap rupiah dan menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran.

Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati pandangan BI mengenai stabilitas rupiah, kondisi ekonomi domestik, likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.

Dari eksternal, dolar AS masih bergerak terbatas karena pelaku pasar semakin memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan September.

Rangkaian data ekonomi AS menunjukkan kondisi yang lebih lemah, mulai dari hilangnya lapangan kerja pada Juli hingga inflasi yang relatif terkendali. Kondisi tersebut membuat pasar memperhitungkan peluang hampir 70% bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada bulan depan.

Meski demikian, dolar masih mendapat dukungan dari kekhawatiran mengenai berlanjutnya konflik AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz. Ketegangan tersebut kembali memunculkan risiko kenaikan harga energi dan inflasi serta mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak lebih tinggi.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Makin Perkasa & Menguat ke Rp 17.700-an per Dolar AS