MARKET DATA

Nilai Tukar Rupiah Menguat Tipis Sore Ini, Dolar AS Parkir di Rp17.860

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
13 August 2026 15:06
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah diDolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil membalikkan tekanan dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (13/8/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan dengan penguatan tipis 0,03% ke posisi Rp17.860/US$. Penguatan tersebut sekaligus memutus tren pelemahan yang berlangsung selama dua hari perdagangan sebelumnya.

Rupiah sebenarnya mengawali perdagangan di zona merah dengan pelemahan 0,06% ke level Rp17.875/US$. Mata uang Garuda kemudian berbalik arah dan menguat 15 poin dari posisi pembukaan hingga penutupan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,03% ke posisi 99,984.

Pemulihan rupiah berlangsung seiring pelemahan dolar AS setelah inflasi Negeri Paman Sam menunjukkan perlambatan. Inflasi AS secara tahunan turun menjadi 3,4% pada Juli dari 3,5% pada Juni, sedangkan inflasi inti melandai menjadi 2,5% dari sebelumnya 2,6%.

Data tersebut mengurangi peluang bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar kini memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September sebesar 40%, turun dari 44% sebelum data inflasi diumumkan dan 55% sepekan sebelumnya.

Meski demikian, tekanan terhadap dolar masih terbatas karena pelaku pasar menilai perlambatan inflasi belum cukup untuk mengubah sikap The Fed. Dolar juga memperoleh dukungan dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS serta berlanjutnya ketegangan antara AS dan Iran.

Sementara itu, rupiah dari dalam negeri masih menghadapi risiko arus keluar asing setelah evaluasi MSCI Agustus mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari daftar indeks. Perubahan komposisi tersebut berpotensi membuat investor yang mengikuti indeks MSCI menyesuaikan portofolionya.

Namun, potensi tekanan tersebut belum mampu menahan pemulihan rupiah pada perdagangan hari ini. Pelemahan DXY memberikan ruang bagi mata uang Garuda untuk berbalik menguat setelah sempat tertekan pada awal perdagangan.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pagi Ini Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp17.900


Most Popular
Features