MARKET DATA

Rupiah Dibuka Tertekan Pagi Ini, Dolar AS Naik ke Rp17.875

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
13 August 2026 09:06
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah diDolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — Rupiah belum mampu keluar dari tekanan pada perdagangan pagi ini, Kamis (13/8/2026). Mata uang Garuda kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski inflasi AS melandai dan indeks dolar terkoreksi pada awal perdagangan sesi Asia.

Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan, rupiah mengalami tekanan 0,06% atau melemah ke posisi Rp17.875/US$.

Pelemahan pagi ini melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya. Pada Rabu (12/8/2026), rupiah ditutup melemah 0,20% ke posisi Rp17.865/US$, sekaligus membukukan penurunan selama dua hari perdagangan beruntun.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,08% ke posisi 99,931. DXY berbalik turun setelah ditutup menguat 0,19% pada perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah hari ini masih dipengaruhi respons pasar terhadap data inflasi konsumen AS periode Juli serta potensi arus keluar asing dari pasar saham Tanah Air setelah evaluasi indeks MSCI.

Inflasi AS secara tahunan melandai menjadi 3,4% pada Juli dari 3,5% pada Juni. Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi juga turun menjadi 2,5% dari sebelumnya 2,6%.

Data tersebut pada awalnya membawa angin segar bagi mata uang negara berkembang. Dolar AS sempat melemah karena perlambatan inflasi mengurangi peluang bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September hanya sebesar 40%, turun dari 44% sebelum data inflasi diumumkan dan 55% pada pekan sebelumnya. Penurunan peluang tersebut juga dipengaruhi laporan ketenagakerjaan AS yang menunjukkan hilangnya lapangan kerja pada Juli.

Namun, tekanan terhadap dolar tidak berlangsung lama. Greenback berbalik menguat karena pelaku pasar menilai penurunan inflasi belum cukup untuk mengubah sikap The Fed yang masih berhati-hati terhadap tekanan harga.

Dolar juga memperoleh dukungan dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Lelang surat utang tenor 10 tahun mencatat permintaan kuat dengan imbal hasil 4,683%, tertinggi sejak 2007.

Ketegangan antara AS dan Iran turut menjaga permintaan terhadap dolar sebagai aset aman. Perundingan mengenai pelaksanaan kesepakatan sementara Juni dilaporkan belum menunjukkan kemajuan, sementara ketidakpastian mengenai Selat Hormuz masih berlanjut.

Adapun dari domestik, rupiah menghadapi risiko tambahan setelah evaluasi MSCI Agustus mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari daftar indeks. Perubahan komposisi tersebut berpotensi mendorong investor asing yang mengikuti indeks MSCI menyesuaikan portofolionya.

Jika penyesuaian itu disertai penjualan saham dan penukaran dana ke dolar AS, arus keluar asing berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah. 

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Melemah 0,35%, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.365


Most Popular
Features