Bursa Asia Dibuka Galau, Investor Tunggu Data Krusial AS

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Rabu, 12/08/2026 08:33 WIB
Foto: AP/Shuji Kajiyama

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia-Pasifik dibuka bervariasi pada perdagangan Rabu (12/8/2026), dengan investor mencermati sejumlah katalis global, terutama data inflasi Amerika Serikat (AS).

Melansir CNBC, Indeks Kospi Korea Selatan menguat 1,17%, sementara Nikkei 225 Jepang turun 0,17% dan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,52%.


Pergerakan bursa Asia berlangsung di tengah perhatian investor terhadap prospek kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Pasar menanti data indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) AS untuk Juli yang akan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan arah suku bunga pada pertemuan September mendatang.

Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan inflasi bulanan AS pada Juli hanya naik tipis sebesar 0,1% untuk inflasi umum dan 0,2% untuk inflasi inti. Namun, secara tahunan inflasi umum diperkirakan mencapai 3,4% dan inflasi inti sebesar 2,5%, yang masih berada di atas target The Fed sebesar 2%.

Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi meningkatkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga yang lebih ketat. Perhatian terhadap inflasi juga masih tinggi setelah tiga pejabat The Fed menyatakan perbedaan pendapat dengan memberikan suara untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan terakhir.

Tekanan inflasi AS juga masih berpotensi berasal dari kenaikan harga energi, dengan harga minyak AS telah menembus US$83 per barel pada pekan ini. Kondisi tersebut terjadi di tengah memudarnya harapan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak global.

Kepala Strategi Investasi SoFi Liz Thomas menilai data inflasi terbaru akan sangat menentukan arah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di kisaran 50%, sehingga data inflasi dapat mendorong ekspektasi tersebut ke salah satu arah.

Pergerakan pasar obligasi AS juga akan menjadi perhatian setelah rilis data inflasi, terutama imbal hasil surat utang tenor pendek dan panjang. Imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,7%, sedangkan tenor dua tahun berada di sekitar 4,2%, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan rezim suku bunga yang lebih ketat.

Selain data CPI, investor masih akan menghadapi sejumlah katalis lain pada pekan ini. Data producer price index (PPI) AS untuk Juli yang akan dirilis Kamis akan menjadi perhatian untuk melihat apakah tekanan inflasi dari sisi produsen tetap melandai seperti pada bulan sebelumnya.

Dari pasar saham AS, sejumlah saham teknologi mencatat penguatan dalam perdagangan terbaru. Saham Super Micro Computer melonjak lebih dari 7% setelah perusahaan infrastruktur pusat data tersebut memberikan proyeksi positif untuk laba dan pendapatan kuartal I, sementara saham CoreWeave melesat 14% setelah margin laba operasional yang disesuaikan pada kuartal II mencapai 5%, melampaui ekspektasi.

Di sisi lain, pelaku pasar juga akan mencermati laporan keuangan sejumlah perusahaan pada perdagangan berikutnya. Cerebras dan Cisco dijadwalkan menyampaikan laporan kinerja pada sesi perdagangan sore AS.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Transaksi Bursa Berjangka Diramal Masih Bisa Naik 60% di 2026