IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,53% ke level 6.267,88 pada perdagangan Selasa (11/8). Sejumlah saham menjadi penggerak utama perdagangan, dengan KLBF menguat 1,91%, STAR naik 24,70%, dan ISAT bertambah 2,38%. Sebaliknya, DCII turun 4,66%, BBCA melemah 1,18%, dan ASII terkoreksi 2,60%.
Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp279,98 miliar di pasar reguler dan Rp687,80 miliar di seluruh pasar. Dari sisi sektoral, 10 dari 11 sektor berakhir di zona merah. Sektor Industrials mencatat penurunan terbesar sebesar 3,49%, sedangkan sektor Healthcare menjadi satu-satunya sektor yang menguat dengan kenaikan 0,19%.
Di bursa Amerika Serikat (AS), tiga indeks utama juga ditutup melemah. Dow Jones turun 0,34% ke level 53.791, S&P 500 terkoreksi 0,32% ke level 7.728, dan Nasdaq melemah 0,60% ke level 26.445.
Pelaku pasar masih mencermati pengumuman MSCI Index Review Agustus yang dijadwalkan berlangsung pada dini hari. Kondisi tersebut tercermin dari penurunan ETF EIDO sebesar 2,12% dan indeks MSCI Indonesia sebesar 1,11%.
Dari sisi aksi korporasi, PT Aman Agrindo Tbk (GULA) tengah menjalankan tiga proyek strategis untuk mengembangkan bisnis gula terintegrasi. Pertama, perseroan membangun pabrik gula merah baru di Pandeglang, Banten, dengan kapasitas 500 ton tebu per hari yang ditargetkan rampung pada kuartal IV-2026.
Kedua, GULA berencana mengakuisisi pabrik gula merah di Sragen, Jawa Tengah, dengan kapasitas 1.000 ton cane per day (TCD). Nilai transaksi akuisisi tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp350 miliar.
Ketiga, perseroan menyiapkan pembangunan fasilitas pengolahan raw sugar menjadi gula kristal putih di Riau dengan kapasitas 600 ton per hari. Proyek ini juga didukung potensi pengembangan perkebunan tebu hingga 5.140 hektare.
Rangkaian ekspansi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membangun rantai pasok gula yang terintegrasi dari sisi hulu hingga hilir.
Hingga 30 Juni 2026, GULA telah merealisasikan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp49,13 miliar atau sekitar 98% dari total Rp50,34 miliar. Sementara itu, sekitar Rp1,22 miliar masih ditempatkan pada instrumen perbankan.
Selanjutnya ada PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang membukukan pendapatan sebesar US$1 miliar pada semester I-2026. Angka tersebut meningkat 8,81% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$919 juta.
Pertumbuhan pendapatan ditopang oleh kenaikan volume penjualan batu bara sebesar 5,12% secara tahunan menjadi 12,3 juta ton. Harga jual rata-rata (average selling price/ASP) juga meningkat menjadi US$81 per ton dari sebelumnya US$78 per ton.
Pada periode yang sama, produksi batu bara ITMG mencapai 9,9 juta ton. Sementara itu, beban pokok pendapatan meningkat 7,09% secara tahunan menjadi US$744 juta, seiring dengan kenaikan biaya penambangan dan pengangkutan.
Meski beban meningkat, laba bersih ITMG tumbuh 16,51% menjadi US$109,51 juta dari US$93,99 juta pada semester I-2025. Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan ASP dan volume penjualan, serta penurunan beban keuangan sebesar 32% menjadi US$3,71 juta dari sebelumnya US$5,50 juta.
Dari sisi teknikal, saham ITMG masih bergerak dalam rentang perdagangan Rp24.300-Rp25.150.
Lalu, ada PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) yang mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) dengan dana maksimum Rp12,60 miliar yang bersumber dari kas internal perseroan.
Melalui aksi tersebut, LABS berencana membeli sebanyak-banyaknya 60 juta saham atau sekitar 1,51% dari total saham beredar. Pelaksanaan buyback dilakukan tanpa memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dengan mengacu pada ketentuan POJK 13/2023 dan SEOJK No. S-10/2026.
Per 30 Juni 2026, kas dan setara kas LABS tercatat sebesar Rp6,86 miliar. Apabila buyback direalisasikan secara penuh, total aset perseroan diperkirakan turun menjadi Rp210,75 miliar dari posisi semester I-2026 sebesar Rp223,35 miliar. Sementara itu, total ekuitas diproyeksikan menjadi Rp144,10 miliar dari sebelumnya Rp156,70 miliar.
Secara proforma, pelaksanaan buyback diperkirakan meningkatkan return on assets (ROA) menjadi 2,01% dari 1,90%, return on equity (ROE) menjadi 2,94% dari 2,71%, serta earnings per share (EPS) menjadi Rp1,09 dari Rp1,07.
Buyback akan dilakukan secara bertahap selama lima bulan, mulai 11 Agustus 2026 hingga 11 Januari 2027, dengan mengacu pada POJK 29/2023, POJK 13/2023, dan SEOJK No. S-10/2026.
Rekomendasi Saham Hari Ini
-
TMAS - Buy 128-130 | TP 132-134 | SL 121
-
MEDC - Buy 1325-1335 | TP 1355-1380 | SL 1265
-
WIRG - Buy 63-665 | TP 67-69 | SL 59
-
ARKO - Buy 4980-5000 | TP 5150-5275 | SL 4750
-
WINS - Buy 500-515 | TP 520-530 | SL 490
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ayh/ayh)