Penjualan Rumah Masih Seret, Harga Cuma Naik Tipis

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Jumat, 07/08/2026 12:30 WIB
Foto: Pekerja beraktivitas pada salah satu proyek pembangunan rumah bersubsidi di kawasan Kemang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (14/1/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia menunjukkan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan II 2026 secara tahunan meningkat terbatas.

Kondisi ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan II 2026 yang tumbuh sebesar 0,69% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I 2026 sebesar 0,62% (yoy).


Secara spasial, dari 18 kota yang disurvei, 10 kota mengalami peningkatan pertumbuhan IHPR secara tahunan , 7 kota mengalami penurunan pertumbuhan, dan 1 kota mencatatkan pertumbuhan yang relatif stabil.

Peningkatan pertumbuhan harga rumah salah satunya tercatat di Banjarmasin pada triwulan II 2026 sebesar 1,29% (yoy) dari sebelumnya 0,52% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan harga rumah di Pekanbaru tercatat mengalami perbaikan menjadi 3,23% (yoy) dari sebelumnya terkontraksi sebesar 0,03% (yoy).

Di sisi lain , harga rumah di Padang dan Balikpapan melambat masing-masing menjadi 0,63 % (yoy) dan 1,19 % (yoy) pada triwulan II 2026 dari sebelumnya sebesar 1,21 % (yoy) dan 1,44% (yoy).

Dari sisi penjualan, hasil survei mengindikasikan secara keseluruhan penjualan properti residensial di pasar primer membaik meski masih mengalami kontraksi sebesar 2,36% (yoy), tidak sedalam kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 25,67% (yoy).

Peningkatan pertumbuhan penjualan rumah tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan penjualan rumah tipe kecil meski masih terkontraksi sebesar 2,88% (yoy) dari sebelumnya terkontraksi lebih dalam sebesar 45,59% (yoy).

Selain itu, peningkatan tersebut juga didorong oleh perbaikan pertumbuhan penjualan rumah tipe besar yang tercatat sebesar 13,08% (yoy) dari sebelumnya terkontraksi sebesar 8,03% (yoy).

Di sisi lain, penjualan rumah tipe menengah turun dari sebelumnya 8,28% (yoy) menjadi terkontraksi sebesar 10,51% (yoy) pada triwulan II 2026.

Berdasarkan hasil survei, tantangan utama pengembangan dan penjualan properti residensial pada pasar primer meliputi kenaikan harga bahan bangunan (27,10%), suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) (15,96%), masalah perizinan/birokrasi (1 4,87 %), proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR ( 11,53 %), dan perpajakan ( 9,75 %).

Sementara itu, suku bunga KPR tercatat relatif stabil dibandingkan triwulan I 202 6 sebesar 7,44%.

Dari sisi pembiayaan, hasil survei menunjukkan bahwa sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial oleh pengembang masih berasal dari dana internal perusahaan, dengan pangsa sebesar 73,28% dari total kebutuhan pembiayaan.

Sementara, mayoritas pembelian rumah di pasar primer oleh konsumen dilakukan melalui skema pembelian Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dengan pangsa sebesar 70,05% dari total skema pembelian.


(ras/mij)
Saksikan video di bawah ini:

BI Minta Bank Konsisten Pacu Kredit, Jangan "Parkir Dana" di SBN