MARKET DATA

Harga Minyak Bangkit Usai Anjlok 5%, Pasar Pantau Negosiasi AS-Iran

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
05 August 2026 09:35
FILE PHOTO: An oil pump jack is seen in Artesia, New Mexico, U.S., April 6, 2023. REUTERS/Liz Hampton/File Photo
Foto: REUTERS/Liz Hampton

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak naik tipis pada perdagangan Rabu pagi (5/8/2026), setelah sehari sebelumnya anjlok lebih dari 5% akibat meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengacu data Refinitiv hingga pukul 09.05 WIB, kontrak Brent untuk pengiriman terdekat (LCOc1) berada di US$79,66 per barel, naik 0,38% dibanding penutupan Selasa di US$79,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) (CLc1) diperdagangkan di US$75,89 per barel, menguat 0,16% dari posisi penutupan sebelumnya di US$75,77 per barel.

Kenaikan pagi ini terjadi setelah harga minyak mengalami koreksi tajam pada sesi sebelumnya. Pada perdagangan Selasa, Brent ditutup merosot 5,3% ke US$79,36 per barel, level terendah sejak 13 Juli. WTI bahkan turun 5,7% menjadi US$75,77 per barel, juga menjadi posisi terendah dalam sekitar tiga pekan.

Aksi jual dipicu pernyataan pejabat AS dan Qatar yang mengindikasikan adanya kemajuan dalam pembicaraan terkait Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan negosiasi dengan Iran dan Oman mengenai peningkatan lalu lintas kapal di Selat Hormuz mengalami perkembangan, meski kesepakatan final belum tercapai. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyebut pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut berpeluang disepakati dalam waktu dekat.

Dari Doha, Kementerian Luar Negeri Qatar menyampaikan upaya mencari solusi diplomatik masih berlangsung. Emir Qatar dan Presiden AS Donald Trump juga disebut membahas langkah-langkah untuk meredakan ketegangan sekaligus menyelaraskan posisi Washington dan Teheran.

Harapan terhadap solusi diplomatik membuat pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang selama beberapa bulan terakhir mendorong harga minyak tetap tinggi. Jika pembicaraan berlanjut dan menghasilkan kesepakatan, risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk diperkirakan berkurang sehingga tekanan terhadap harga minyak dapat berlanjut.

Meski demikian, kondisi di lapangan belum banyak berubah. Arus kapal melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb masih berada pada level yang sangat rendah. Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia, masih membatasi ekspor energi dari kawasan tersebut. Kepala perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, bahkan menyebut dunia telah kehilangan lebih dari 2,6 miliar barel pasokan minyak sejak perang Iran pecah pada Februari lalu.

Sebelum koreksi tajam pekan ini, harga minyak sempat melonjak hingga menembus US$100,69 per barel untuk Brent pada 23 Juli. Namun, dalam waktu kurang dari dua pekan, Brent telah terkoreksi lebih dari 20% hingga berada di kisaran US$79 per barel, mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap risiko pasokan global.

Di tengah volatilitas tersebut, Goldman Sachs masih memperkirakan Brent akan bergerak dalam kisaran US$80-90 per barel sampai ada kepastian mengenai kesepakatan baru antara AS dan Iran atau terjadi eskalasi konflik yang lebih besar.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Stok AS Menyusut & OPEC+ Siap Tahan Produksi, Harga Minyak Naik 4%


Most Popular
Features