Rupiah Gagal Bertahan, Dolar Menguat ke Rp18.015
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah gagal mempertahankan tren positifnya dengan ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda pun kembali berada di atas level psikologisnya.
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Selasa (4/8/2026), rupiah terdepresiasi 0,19% ke posisi Rp18.015/US$. Pelemahan tersebut sekaligus memutus penguatan rupiah selama dua hari perdagangan sebelumnya.
Tekanan rupiah hari ini sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan. Pagi tadi, mata uang Garuda dibuka melemah 0,11% ke posisi Rp18.000/US$, kemudian sempat tertekan lebih dalam hingga menyentuh Rp18.045/US$.
Menjelang penutupan, rupiah berhasil memangkas sebagian pelemahannya dan menguat sekitar 30 poin dari posisi terlemah hari ini.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,10% dan bertahan di sekitar level 100.
Penguatan dolar AS di pasar global menjadi salah satu sentimen yang menekan rupiah pada perdagangan hari ini. DXY kembali bergerak di sekitar level psikologis 100 setelah sebelumnya menyentuh posisi terendah dalam satu setengah bulan.
Dolar AS sebelumnya tertekan setelah bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) mempertahankan suku bunga. Intervensi bersama Jepang dan AS untuk memperkuat yen serta penurunan harga minyak juga sempat membebani greenback.
Namun, dolar mulai kembali menguat setelah pelaku pasar menilai aksi jual seusai pengumuman The Fed terlalu berlebihan. Meski menahan suku bunga pada pertemuan terakhir, The Fed masih diperkirakan akan kembali mengetatkan kebijakan moneternya.
Pasar saat ini memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed sekitar 35 basis poin hingga Desember 2026. Perhatian berikutnya tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS periode Juli yang akan dirilis pada Jumat.
Pasar tenaga kerja yang tetap kuat dapat menjaga ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan menopang dolar AS. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya.
Meski demikian, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus menjaga stabilitas rupiah.
BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya modal asing.
Aliran modal asing terutama diarahkan melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), seiring imbal hasil yang lebih menarik bagi investor.
BI juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar domestik maupun luar negeri. Namun, kembali menguatnya dolar AS di pasar global masih memberikan tekanan terhadap rupiah pada perdagangan hari ini.
(evw/evw)