OJK Ungkap Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12,67%

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Senin, 03/08/2026 16:19 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kinerja intermediasi perbankan nasional tetap kontributif hingga Juni 2026, dengan pertumbuhan kredit yang terus terakselerasi di tengah kualitas aset dan likuiditas yang terjaga.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers usai Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Senin (3/8/2026).


Kiki, sapaan akrab Friderica, memaparkan bahwa kredit perbankan pada Juni 2026 tumbuh 12,67% secara tahunan (yoy) menjadi Rp9.080 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh kredit investasi yang melesat 24,9% yoy, disusul kredit modal kerja yang tumbuh 8,94% yoy, serta kredit konsumsi yang tumbuh 5,75% yoy.

Dari sisi kualitas kredit, rasio non-performing loan (NPL) gross tercatat di level 2,09% dan NPL net sebesar 0,82%. Sementara itu, rasio loan at risk (LAR) tercatat stabil di 8,47%.

Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 10,21% yoy menjadi Rp10.281 triliun. Berdasarkan komponennya, giro tumbuh 9,9% yoy, tabungan tumbuh 8,25% yoy, dan deposito tumbuh 12,16% yoy.

Kiki menambahkan, rasio kecukupan modal (CAR) perbankan per Juni 2026 berada di level 23,7%. Dari sisi likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat di 88,32%, sementara rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid terhadap DPK (AL/DPK) masing-masing berada di 101,9% dan 23,08% - jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 50% dan 10%.

Angka pertumbuhan kredit 12,67% yoy pada Juni ini melanjutkan tren akselerasi yang sudah terlihat sejak pertengahan tahun. Pada Mei 2026, OJK melalui Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae melaporkan kredit tumbuh 11,51%, dengan bank BUMN menjadi motor penggerak utama. Saat itu, kredit investasi juga sudah menjadi kontributor pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 21,95% yoy, sementara kredit modal kerja tumbuh 8,09% yoy dan kredit konsumsi meningkat 5,89% yoy.

Dari sisi permodalan, level CAR 23,7% pada Juni ini juga melanjutkan tren penurunan bertahap dibanding bulan-bulan sebelumnya - pada Mei 2026 CAR tercatat sebesar 23,74%, sementara pada Maret 2026 rasio kecukupan modal itu masih berada di level 25,83%. OJK sebelumnya menjelaskan penyusutan CAR ini lazim terjadi seiring pertumbuhan kredit yang tinggi, karena turut mengerek aset tertimbang menurut risiko (ATMR).

Adapun dari sisi kualitas aset, perbaikan NPL gross ke 2,09% pada Juni ini melanjutkan tren yang relatif terjaga. Pada Mei 2026, NPL gross tercatat 2,17% dan NPL net di level 0,84%, sedangkan rasio likuiditas AL/NCD dan AL/DPK saat itu masing-masing berada di 108,20% dan 24,74%. Dengan demikian, posisi Juni menunjukkan likuiditas perbankan justru semakin melebar dibanding bulan sebelumnya.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Purbaya Guyur Rp 400 Triliun, Saham Perbankan "Ngacir"?