MARKET DATA
Internasional

Investor Bintang Hilang Kendali Dana Rp 730 T, Taruhan Berujung Petaka

sef,  CNBC Indonesia
31 July 2026 17:30
Leopold Aschenbrenner. (Dok X/Leopold Aschenbrenner)
Foto: Leopold Aschenbrenner. (Dok X/Leopold Aschenbrenner)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan hedge fund milik mantan peneliti OpenAI, Leopold Aschenbrenner, dilaporkan terpaksa menjual seluruh kepemilikan sahamnya di bursa. Ini terjadi usai perusahaan mengalami kerugian besar akibat anjloknya saham-saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Mengutip CNBC International, Kamis (30/7/2026), dana lindung nilai Situational Awareness yang didirikan Aschenbrenner mulai melepas berbagai investasinya setelah strategi besarnya di sektor AI berbalik menjadi bumerang.

Kerugian terutama berasal dari anjloknya saham perusahaan infrastruktur AI, sementara taruhan bahwa saham-saham perusahaan perangkat lunak akan turun justru meleset. Akibatnya, nilai portofolio dana tersebut merosot tajam.

Sejumlah sumber yang mengetahui persoalan ini mengatakan bank dan broker yang menjadi mitra Situational Awareness kini berusaha mengumpulkan dana tunai agar hedge fund tersebut bisa memenuhi margin call, yaitu kewajiban menambah dana jaminan ketika nilai investasi yang dibiayai dengan pinjaman turun drastis.

Di tengah tekanan tersebut, hedge fund Citadel milik miliarder Ken Griffin, dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk membeli seluruh portofolio saham publik milik Situational Awareness.


Jatuhnya Saham SK Hynix

Salah satu penyebab kerugian adalah jatuhnya harga saham sejumlah perusahaan yang selama ini menjadi andalan dana tersebut, termasuk produsen chip memori asal Korea Selatan, SK Hynix.

Pada saat yang sama, posisi investasi yang dipasang untuk mendapat keuntungan dari penurunan saham perusahaan perangkat lunak seperti Adobe justru merugi karena harga sahamnya naik.

Menurut sumber CNBC International, Situational Awareness sempat mengelola aset hingga US$45 miliar (sekitar Rp730 triliun/asumsi kurs Rp16.250 per dolar AS) pada awal Juli. Namun dalam hitungan beberapa pekan, nilai investasinya menyusut tajam.

Beberapa bank investasi besar seperti Bank of America, Goldman Sachs, dan JPMorgan Chase kini membantu perusahaan tersebut mengurangi kepemilikan investasinya secara bertahap agar penjualan aset tidak semakin menekan harga pasar.

Situasi masih terus berkembang. Belum diketahui apakah penjualan aset tersebut cukup untuk memenuhi seluruh kewajiban margin call yang dihadapi perusahaan.

Situational Awareness juga sempat dikabarkan menjajaki penjualan kepemilikannya di perusahaan AI Anthropic. Namun, juru bicara perusahaan membantah bahwa saham tersebut sedang dipasarkan.

Taruhan yang Jadi Bumerang

Aschenbrenner menjadi salah satu sosok yang paling diperhatikan di dunia investasi AI setelah keluar dari OpenAI pada 2024. Ia meyakini perkembangan AI akan memicu lonjakan permintaan terhadap chip, semikonduktor, pusat data (data center), dan pasokan listrik sehingga sektor-sektor tersebut akan menjadi ladang investasi besar.

Strategi itu sempat menghasilkan keuntungan fantastis. Ini membuat Situational Awareness berkembang sangat cepat.

Berdasarkan dokumen regulator pada akhir kuartal I, investasi terbesar hedge fund tersebut berada di Nebius Group, Sandisk, Micron, dan CoreWeave. Namun sepanjang bulan ini, seluruh saham tersebut telah anjlok lebih dari 35%. 


Siapa Aschenbrenner?

Aschenbrenner yang kini berusia 25 tahun merupakan lulusan terbaik Universitas Columbia. Pada usia 19 tahun sebelum bergabung dengan tim Superalignment OpenAI.

Ia dipecat dari OpenAI pada 2024 karena dituduh membocorkan informasi internal perusahaan. Aschenbrenner membantah tuduhan tersebut dan mengatakan dokumen yang dibagikannya kepada peneliti luar bukanlah informasi rahasia, melainkan bahan diskusi mengenai keamanan pengembangan AI.

Hingga kini belum diketahui berapa besar kerugian yang dialami Situational Awareness maupun berapa dana yang dibutuhkan untuk menstabilkan kondisi keuangannya. Namun, gejolak ini menjadi ujian terbesar bagi strategi investasi AI yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu kisah sukses paling spektakuler di Wall Street.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kapitalisasi Pasar Bursa Korsel Menguap Rp 18.000 Triliun


Most Popular
Features