Stok AS Menyusut & OPEC+ Siap Tahan Produksi, Harga Minyak Naik 4%
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (29/7/2026) setelah sehari sebelumnya tertekan tajam. Data Refinitiv hingga pukul 09.30 WIB memperlihatkan kontrak Brent naik 4,14% ke US$87,57 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,31% menjadi US$82,68 per barel.
Kenaikan tersebut memangkas sebagian besar koreksi pada sesi sebelumnya. Sehari sebelumnya Brent ditutup di US$84,09 per barel dan WTI di US$79,26 per barel. Jika ditarik lebih panjang, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, yakni Brent US$100,69 per barel dan WTI US$92,19 per barel pada 23 Juli, sebelum berbalik turun akibat perkembangan geopolitik.
Pelaku pasar kembali memburu minyak setelah data American Petroleum Institute (API) memperkirakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun sekitar 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli. Penurunan stok tersebut mengindikasikan pasokan di pasar domestik AS mulai mengetat, sehingga memicu ekspektasi fundamental yang lebih kuat menjelang rilis data resmi Energy Information Administration (EIA).
Di sisi lain, stok produk olahan bergerak ke arah berbeda. Persediaan bensin dilaporkan bertambah sekitar 918 ribu barel, sedangkan stok distilat meningkat 355 ribu barel dibandingkan pekan sebelumnya. Walau demikian, pasar lebih memfokuskan perhatian pada penyusutan cadangan minyak mentah yang menjadi acuan utama keseimbangan pasokan.
Faktor lain yang menopang harga datang dari sisi produsen. Sumber Reuters menyebut OPEC+ berpeluang menghentikan kenaikan produksi selama tiga bulan mulai Oktober, setelah seluruh jadwal pengembalian produksi sukarela selesai dijalankan. Apabila keputusan tersebut terealisasi, tambahan pasokan dari kelompok produsen utama akan tertahan pada kuartal IV, sehingga kekhawatiran kelebihan pasokan dapat mereda.
Sentimen geopolitik masih menjadi penggerak utama harga. Dalam beberapa pekan terakhir, perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mengganggu arus perdagangan minyak global, terutama karena efektifnya penutupan Selat Hormuz, jalur yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
Pada Selasa, harga minyak sempat anjlok sekitar 5% ke level terendah dalam dua pekan setelah muncul harapan konflik mulai mereda. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan baik usai menghentikan kampanye pengeboman selama dua pekan. Namun ia tetap mengancam akan kembali melancarkan serangan apabila negosiasi gagal, sementara Teheran membantah tengah berupaya membuka kembali perundingan dengan Washington.
Upaya diplomatik pun terus berlangsung. Menurut Reuters, Oman telah mengajukan proposal kepada Iran terkait mekanisme pengelolaan Selat Hormuz, termasuk skema pungutan sukarela bagi kapal yang melintas. Rancangan tersebut mendapat dukungan negara-negara Teluk dan diharapkan menjadi landasan untuk memulihkan kelancaran perdagangan minyak melalui jalur strategis tersebut.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]