Rupiah Lanjut Melemah, Dolar AS Ditutup Naik ke Rp18.055
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah masih tak kuasa menahan tekanan dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda kembali ditutup melemah terhadap greenback pada perdagangan Selasa (28/7/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,31% ke posisi Rp18.055/US$. Pelemahan tersebut membuat rupiah berakhir di zona merah selama empat hari perdagangan beruntun.
Rupiah telah mengawali perdagangan hari ini dengan pelemahan sebesar 0,33% ke level Rp18.060/US$. Tekanan sempat membesar hingga membawa rupiah menyentuh Rp18.095/US$, yang menjadi posisi terlemahnya sepanjang perdagangan hari ini.
Namun, mata uang Garuda mampu memangkas sebagian pelemahannya menjelang penutupan dan berakhir lima poin lebih kuat dibandingkan posisi pembukaan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 101,491.
Pergerakan mata uang Garuda masih dibayangi transisi kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) serta penantian terhadap keputusan suku bunga bank sentral AS.
Pasar masih menanti pergantian kepemimpinan di BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai gubernur pada Sabtu (25/7/2026) karena alasan pribadi.
Dewan Gubernur BI telah menetapkan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai pejabat Gubernur BI sementara dalam rapat yang digelar pada Minggu (26/7/2026).
Destry menegaskan bahwa tugas dan pengambilan keputusan di bank sentral akan tetap dijalankan secara kolektif dan kolegial. BI juga memastikan keberlangsungan kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sistem pembayaran, dan sistem keuangan.
Dari eksternal, dolar AS masih bertahan di sekitar level tertinggi dalam satu bulan menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berlangsung selama dua hari dan akan berakhir pada Rabu (29/7/2026).
Berdasarkan CME FedWatch, pasar memperhitungkan probabilitas sebesar 36,3% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini. Angka tersebut meningkat dibandingkan 16% pada pekan sebelumnya.
Pasar juga memperkirakan peluang sebesar 81% bahwa kenaikan suku bunga akan dilakukan pada pertemuan September.
Ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS yang lebih ketat membuat daya tarik aset berdenominasi dolar tetap terjaga dan menambah tekanan terhadap rupiah.
(evw/evw) Add
source on Google