Orang Kaya RI Makin Getol Nabung Dolar, Ini Buktinya

Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
Selasa, 28/07/2026 13:25 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Orang kaya makin gemar menabung dolar Amerika Serikat (AS), seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah.

Data distribusi rekening simpanan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatatkan jumlah rekening US$ mencapai 8.918.054, naik 58,2% secara tahunan atau year on year (yoy) per Mei 2026. Angka itu menyumbang 1,3% dari keseluruhan jumlah rekening simpanan masyarakat RI.

Pertumbuhan itu jauh melampaui jumlah rekening simpanan rupiah yang hanya naik 8,4% pada periode yang sama. Jumlahnya adalah 673.138.861 rekening atau 98,7% dari keseluruhan.


Menurut Ketua Dewan Komisioner (DK) LPS, Anggito Abimanyu, kenaikan itu berasal dari pertumbuhan rekening dolar dengan tiering nominal simpanan lebih dari Rp5 miliar.

"Yang jumlah yang di atas Rp5 miliar yang naik. Ya itu naik kelas, cuma jumlahnya memang naik," kata Anggito saat ditemui di sela-sela acara Seminar Nasional & Pelantikan ISEI Jakarta Komisariat PERBANAS, di Perbanas Institute Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Ia mengatakan kenaikan rekening dolar itu bukan karena implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang baru. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026, dan mulai berlaku efektif pada 1 Juni 2026. Peraturan itu mewajibkan penempatan DHE SDA 100% di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Anggito mengatakan dolar para eksportir baru akan efektif masuk pada bulan September pasca kebijakan baru diberlakukan.

"Belum, kan DHE baru efektif September ya uangnya masuk ya," pungkas Anggito.

Sebelumnya, Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Hery Gunardi, menyebut pertumbuhan pesat rekening dolar itu terjadi seiring dengan penerapan ketentuan DHE yang baru.

"Ya memang ada [peningkatan] kan. Karena ada DHE, DHE yang masuk di Bank Himbara cukup tinggi," ujar Hery saat ditemui di Gedung Menara Radius Prawiro, Selasa (14/7/2026).

Maka demikian, peningkatan rekening dolar menjadi lumrah, seiring dengan kenaikan penempatan dolar eksportir di rekening bank BUMN.

"Jadi pasti meningkat kalau DHE hasil ekspornya balik lagi, dan hasil ekspor masuk pasti meningkat," ucap Hery yang juga merupakan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) itu.

Secara umum, jumlah nominal simpanan valuta asing (valas) juga meningkat 18,7% yoy per Mei 2026. Nominalnya setara dengan Rp1.714,76 triliun, memegang porsi 16,6% dari nominal seluruh rekening masyarakat RI.

Sementara itu, jumlah nominal rekening rupiah mencapai Rp8.615,16 triliun, naik double digit 12,4%, namun di bawah pertumbuhan nominal rekening valas. Porsinya menjadi mayoritas dari seluruh nominal simpanan, atau setara 83,4%.

Adapun mata uang Garuda kembali dibuka melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan pagi ini di posisi Rp18.060/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,33%.

Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup turun 0,36% dan terparkir tepat di level Rp18.000/US$.


(ayh/ayh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jelang Rilis BI Rate, Rupiah Melemah & Dekati Rp 18.000/USD