MARKET DATA

Ekonom Soal Perry Warjiyo Mundur: Tak Picu Kekhawatiran Pasar

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
27 July 2026 10:20
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menyampaikan konferensi pers di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2026). (Dok. Bank Indonesia)
Foto: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menyampaikan konferensi pers di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2026). (Dok. Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menuturkan pengunduran diri Perry Warjiyo perlu dipandang sebagai peralihan kepemimpinan yang tertib, bukan kekosongan kendali di Bank Indonesia.

Bank Indonesia (BI) telah menetapkan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara setelah pengunduran diri Perry Warjiyo secara sukarela karena alasan pribadi.

"Penetapan itu diputuskan melalui Rapat Dewan Gubernur dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Secara manusiawi, keputusan Perry Warjiyo untuk beristirahat patut dihormati," paparnya.

Dia menilai kesinambungan kebijakan tetap terjaga karena keputusan BI pada dasarnya tidak bertumpu pada satu figur. Keputusan juga ditempuh melalui musyawarah seluruh anggota Dewan Gubernur.

"Secara keseluruhan, pengunduran diri Perry Warjiyo tidak perlu memicu kekhawatiran berlebihan. Bank Indonesia mempunyai dasar hukum, Dewan Gubernur yang bekerja secara bersama, perangkat kebijakan yang lengkap, dan Pejabat Gubernur Sementara yang telah lama berkecimpung di pasar keuangan," ujar Josua.

Menurutnya, pesan utama kepada dunia usaha dan investor adalah bahwa tidak terdapat kekosongan kepemimpinan, tidak ada perubahan mandat Bank Indonesia, dan tidak ada alasan bagi kebijakan nilai tukar maupun pasar keuangan berubah secara tiba-tiba.

"Tantangan terpenting saat ini bukan kemampuan Destry menjalankan tugas, melainkan memastikan komunikasi transisi dilakukan secara cepat, konsisten, dan meyakinkan," katanya.

Menurut Josua, Destry Damayanti merupakan figur yang cukup siap untuk menjaga kesinambungan tersebut. Ia telah menjadi Deputi Gubernur Senior sejak 2019 dan kini menjalani masa jabatan kedua hingga 2029.

Sebelum masuk ke jajaran pimpinan BI, pengalaman Destry mencakup Citibank Indonesia, Mandiri Sekuritas, Bank Mandiri, Kementerian BUMN, dan Lembaga Penjamin Simpanan.

"Rekam jejak itu menunjukkan pemahaman yang kuat terhadap perilaku pelaku pasar, pergerakan modal, perbankan, surat berharga, dan pembentukan harapan investor," kata Josua.

Fokusnya di BI juga mencakup pengembangan pasar uang dan valuta asing serta stabilitas nilai tukar rupiah. Karena itu, kata Josua, cara BI membaca pasar dan mengelola rupiah kemungkinan tidak akan berubah secara mendadak karena pergantian ini.

Dia yakin kesinambungan tersebut juga diperkuat oleh perangkat kebijakan yang sudah berjalan.

BI akan tetap menjalankan intervensi di pasar valuta asing, mengelola suku bunga pasar uang, menjaga kecukupan likuiditas perbankan, dan memperluas fasilitas perlindungan nilai bagi investor.

"Seluruh perangkat tersebut sudah melekat pada kerangka kelembagaan dan dapat tetap dijalankan di bawah Destry," katanya.

Namun, dia menilai kesinambungan tidak berarti BI boleh menganggap masa transisi ini tanpa risiko. Pasar akan menilai tiga hal, yaitu konsistensi komunikasi BI, ketegasan menjaga independensi, dan kepastian proses pemilihan Gubernur yang baru.

Oleh karena itu, dia melihat BI perlu segera menegaskan bahwa sasaran inflasi, pendekatan stabilisasi rupiah, dan keputusan suku bunga tetap berdasarkan data serta perkembangan risiko.

"Pemerintah juga perlu menyampaikan bahwa proses penunjukan Gubernur baru tidak dimaksudkan untuk mengarahkan BI agar menurunkan suku bunga atau membiayai kebijakan pemerintah," tegasnya.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Dibuka Melemah Usai Perry Warjiyo Mundur dari BI


Most Popular
Features