Rupiah Melemah ke Rp17.960 Pasca Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar mata uang Garuda mengawali perdagangan awal pekan ini di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Senin (27/7/2026), rupiah melemah ke posisi Rp17.960/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,14%. Pelemahan ini melanjutkan tekanan pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (24/7/2026), ketika rupiah ditutup turun 0,25% ke level Rp17.935/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB tengah mengalami pelemahan. DXY terkoreksi 0,3% dan turun ke level 101,164.
Pelemahan rupiah pada awal pekan terjadi di tengah kabar mengejutkan dari Bank Indonesia (BI). Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI pada Sabtu (25/7/2026).
Surat pengunduran diri tersebut telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam penjelasan resminya, BI menyebut Perry mengundurkan diri secara sukarela karena alasan pribadi.
"Pengunduran diri Saudara Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia secara sukarela karena alasan pribadi," dikutip dari keterangan resmi BI, Senin (27/7/2026).
Pengunduran diri tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah Perry memimpin konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode Juli. Dalam rapat tersebut, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.
Sesuai dengan Pasal 48 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sebagaimana terakhir diubah melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, Dewan Gubernur BI kemudian menggelar rapat pada Minggu (26/7/2026).
Rapat tersebut menetapkan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai pejabat Gubernur sementara, sesuai dengan Pasal 50 ayat (2) UU BI.
Perry mengakhiri kepemimpinannya di BI setelah menjabat sebagai gubernur sejak 2018. Ia tengah menjalani periode keduanya setelah kembali dilantik pada 2023.
Dalam konferensi pers pada Senin pagi, Destry menegaskan bahwa pelaksanaan tugas dan pengambilan keputusan di BI akan tetap dilakukan secara kolektif dan kolegial.
"Bank Indonesia akan selalu memastikan keberlangsungan tugas dan wewenang untuk mencapai stabilitas nilai tukar rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, dan turut menjaga sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," papar Destry.
Padahal dari eksternal, pelemahan dolar AS seharusnya mampu memberikan dorongan positif bagi nilai tukar rupiah. DXY terkoreksi di tengah pekan yang dipenuhi agenda sejumlah bank sentral dunia, termasuk pertemuan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Sentimen pasar juga membaik setelah AS menghentikan sementara serangan udaranya terhadap Iran selama akhir pekan. Kondisi tersebut mendorong harga minyak turun dan meningkatkan kepercayaan investor global.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati peluang kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan probabilitas sebesar 36,3% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan dua hari yang berakhir pada Rabu (29/7/2026).
Peluang tersebut sedikit meningkat, meski tidak banyak berubah dibandingkan posisi pada Jumat pekan lalu. Arah kebijakan The Fed akan menjadi salah satu penentu utama pergerakan dolar AS dan rupiah dalam beberapa hari ke depan.
(evw/evw) Add
source on Google