Rupiah Ditutup Merah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.930

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Jumat, 24/07/2026 15:03 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Mata uang Garuda bahkan sempat mendekati level psikologis Rp18.000/US$ sebelum memangkas pelemahannya menjelang akhir perdagangan.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,25% ke posisi Rp17.935/US$. Posisi penutupan tersebut sama dengan level pembukaan perdagangan pagi tadi.


Rupiah sempat melemah lebih dalam hingga menyentuh Rp17.980/US$, yang menjadi level terendah sepanjang perdagangan hari ini. Tekanan kemudian berkurang dan rupiah berhasil menjauh sekitar 50 poin dari posisi terlemahnya.

Pelemahan hari ini membuat rupiah berakhir di zona merah selama dua hari perdagangan beruntun. Secara mingguan, rupiah juga melemah sekitar 0,25% dari posisi penutupan Jumat pekan lalu di Rp17.885/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,17% ke posisi 101,275. DXY terkoreksi setelah menguat 0,32% pada perdagangan sebelumnya, Kamis (23/7/2026).

Meski DXY melemah pada perdagangan sore ini, rupiah belum mampu berbalik ke zona hijau. Tekanan masih datang dari lonjakan harga minyak, kenaikan yield US Treasury, serta kembali memanasnya perang dagang global.

Harga minyak Brent sempat menembus US$102 per barel pada perdagangan Jumat. Secara bulanan, harga minyak tersebut telah melonjak hampir 40% setelah konflik di Timur Tengah kembali mengancam jalur distribusi energi dunia.

Kenaikan terbaru dipicu serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Serangan tersebut memperbesar ancaman gangguan di Selat Bab el-Mandeb, ketika pengiriman minyak melalui Selat Hormuz juga masih terganggu.

Presiden AS Donald Trump kemudian memerintahkan serangan militer terhadap Iran serta menjanjikan hukuman besar kepada Iran dan kelompok Houthi.

Lonjakan harga minyak kembali mengerek kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi ini pun mendorong Yield US Treasury tenor 10 tahun naik menembus 4,7% atau mencapai posisi tertinggi dalam lebih dari 18 bulan.

Kenaikan yield membuat aset berdenominasi dolar AS menjadi sangat menarik.

Tekanan lain datang dari kebijakan tarif terbaru pemerintahan Trump yang resmi berlaku pada Jumat. AS mengenakan tarif sebesar 10% dan 12,5% terhadap barang dari 60 mitra dagang yang dinilai lemah dalam menegakkan larangan produk hasil kerja paksa.

Indonesia masuk dalam kelompok negara yang dikenai tarif sebesar 10%. Tarif baru tersebut menggantikan tarif global sementara sebesar 10% yang berakhir pada hari yang sama.

Pelaku pasar kini menantikan pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pekan depan. Lonjakan harga energi dan kenaikan tarif membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter The Federal Reserve yang lebih ketat.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jurus Cari Cuan Investasi Saat IHSG & Rupiah Hadapi Tekanan