Dolar AS Perkasa, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.930/US$
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (24/7/2026), menjelang berakhirnya perdagangan pekan ini.
Dilansir dari Refinitiv, rupiah dibuka terdepresiasi sebesar 0,22% ke posisi Rp17.930/US$. Pada perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda ditutup melemah 0,08% ke level Rp17.890/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,06% ke posisi 101,392. Pelemahan tipis ini terjadi setelah DXY menguat 0,32% pada perdagangan Kamis (23/7/2026).
Pergerakan rupiah menjelang akhir pekan masih dibayangi dinamika dolar AS di pasar global. Meski terkoreksi tipis pagi ini, DXY masih berada di sekitar level tertinggi dalam tiga pekan setelah kembali menembus posisi 101.
Penguatan dolar sebelumnya ditopang oleh lonjakan harga minyak serta kenaikan yield US Treasury. Kedua sentimen tersebut kembali memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global akan bertahan lebih lama.
Harga minyak dunia pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026), kembali menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Kenaikan terjadi setelah kelompok Houthi Yaman menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Serangan tersebut membuat perang di Timur Tengah mulai mengancam dua jalur utama perdagangan minyak dunia sekaligus, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Presiden AS Donald Trump juga menjanjikan hukuman militer besar terhadap Iran dan kelompok Houthi.
Tekanan inflasi turut datang dari kebijakan perdagangan AS. Pemerintahan Trump akan mengenakan tarif baru sebesar 10% dan 12,5% terhadap barang dari 60 mitra dagang yang dituding lemah dalam menegakkan larangan penggunaan tenaga kerja paksa.
Indonesia masuk dalam kelompok negara yang dikenai tarif sebesar 10%. Tarif tersebut juga berlaku bagi barang dari sejumlah negara lain, seperti India, Malaysia, Kanada, Inggris, Meksiko, Pakistan, dan Bangladesh.
Tarif baru ini menggantikan tarif global sementara sebesar 10% yang berakhir pada Jumat ini. Pemerintah AS sebelumnya menegaskan bahwa bagi negara yang telah memiliki kesepakatan dagang dengan Washington, tarif tersebut tidak akan membuat bea masuk melampaui batas yang telah disepakati.
Kenaikan harga minyak dan ketegangan perdagangan global kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut mendorong kenaikan yield US Treasury dan menjaga daya tarik aset berdenominasi dolar AS yang pada gilirannya dapat mengurangi ruang penguatan bagi mata uang negara lain tak terkecuali rupiah.
(evw/evw) Add
source on Google