Panda Bond Bikin RI Gak Bergantung Lagi ke Dolar AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Penerbitan obligasi berdenominasi China renminbi, Panda Bond, disebut ekonom dapat membuat Indonesia tidak lagi bergantung dengan dolar Amerika Serikat (AS).
Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, Myrdal Gunarto melihat secara bertahap Indonesia sudah mulai melepaskan ketergantungan akan dolar AS. Indonesia telah memulai transaksi dengan mata uang Yuan di jalur perdagangan, melalui skema local currency transaction (LCT) dan kini fiskal pemerintah pun mulai diperkuat dengan penerbitan surat utang mata uang Negeri Panda tersebut.
"Iya, karena secara bertahap saat ini transaksi LCT dengan mata uang Tiongkok juga terus meningkat," ujar Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, Myrdal Gunarto kepada CNBC Indonesia pada Rabu (22/7/2026).
Walaupun Indonesia mulai melepas ketergantungan terhadap dolar AS, Myrdal mengatakan tetap butuh waktu untuk menggeser penuh peran greenback sebagai alat transaksi dengan dunia internasional.
"Memang butuh waktu yang tidak sebentar untuk mata uang lain menggantikan hegemoni dolar AS dalam aktivitas transaksi internasional," ucap Myrdal.
Dirinya pun mengatakan bahwa Panda Bond sebagai keberhasilan pemerintah dalam melakukan strategi diversifikasi pembiayaan fiskal. Bonusnya adalah mengalirnya dana investor masuk ke dalam negeri.
"Panda Bond bisa menghadirkan inflow dari luar dengan biaya yang murah. Saya lihat yield indikasi dari Panda Bond sangat rendah Pak. Ini tentu juga menjadi keberhasilan pemerintah dalam melakukan strategi diversifikasi pembiayaan fiskal."
Pemerintah akan menerbitkan obligasi berdenominasi yuan China atau yang dikenal sebagai panda bonds pada 23 Juli 2026. Diketahui, pemerintah menargetkan penghimpunan dana dari panda bonds sebesar US$ 1 miliar.
Adapun Panda Bond dinilai oleh lembaga rating yang paling kuat di China, yakni Lianhe Credit Rating telah memberikan peringkat utang itu AAA/Stable.
Myrdal mengatakan bahwa rating AAA/Stable dari Lianhe Credit Rating merupakan pencapaian yang masif dan akan ada beberapa implikasi makroekonomi dan fiskal.
"Pertama, penurunan Cost of Fund, dengan profil risiko yang dinilai sangat minim, pemerintah memiliki posisi tawar yang kuat untuk menekan yield serendah mungkin. Ini sangat krusial untuk menjaga beban bunga utang APBN tetap efisien," ucap Myrdal.
Kedua adalah diversifikasi Basis Investor dan Mata Uang. Langkah pemerintah menargetkan ekuivalen US$ 1 miliar (sekitar 7 miliar yuan) pada emisi 23 Juli 2026 adalah manuver diversifikasi yang taktis.
"Masuk ke pasar renminbi membuka akses ke pool of capital Tiongkok yang masif, sehingga kita tidak hanya bergantung pada penerbitan berdenominasi Dolar AS (Global Bond) atau Yen (Samurai Bond) di tengah volatilitas suku bunga global," ujarnya.
Terakhir, Myrdal melihat rating AAA ini mengonfirmasi bahwa fundamental ekonomi, kecukupan cadangan devisa, dan stabilitas fiskal Indonesia diakui sangat solid oleh kacamata investor global.
(ras/haa) Add
source on Google