Likuiditas Sempat Seret, BI Gelontorkan Dana Hampir Rp1.000 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan tekanan likuiditas di pasar uang dan perbankan yang sempat terjadi pada akhir Juni 2026 kini mulai mereda. Perbaikan tersebut ditopang oleh langkah agresif operasi moneter BI serta sinergi dengan pemerintah melalui pengelolaan Saldo Anggaran Lebih (SAL).
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan, kondisi likuiditas sempat mengetat pada pekan terakhir Juni. Hal itu tercermin dari kenaikan Indonesia Overnight Index Average (IndONIA), suku bunga acuan pasar uang overnight yang dikelola BI, yang sempat mendekati level 6,5%.
"Kalau dari sisi pasarnya, kita biasanya untuk melihat apakah likuiditas ketat atau tidak, melihat dari IndONIA, suku bunga di pasar uang overnight, di mana pada minggu terakhir Juni 2026, memang IndONIA sempat meningkat mencapai sekitar hampir 6,5%," kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/7/2026).
Merespons kondisi tersebut, BI segera menggelontorkan likuiditas ke pasar melalui berbagai instrumen operasi moneter, termasuk repurchase agreement (repo) dan swap valuta asing. Langkah ini membuat tekanan likuiditas berangsur menurun.
"Pada saat itu, kami menggelontorkan likuiditas, baik melalui kebijakan repo ataupun melalui efek swap, sehingga ada penambahan dana sekitar hampir mencapai Rp1.000 triliun di sekitar 25 Juni 2026, atau pekan ke-4 Juni 2026," lanjut Destry.
Selain intervensi BI, pengelolaan SAL oleh Kementerian Keuangan juga turut membantu menjaga kecukupan likuiditas di sistem keuangan.
"Dengan bertambahnya likuiditas di pasar, kemudian juga ada kebijakan SAL yang terus dipertahankan oleh pemerintah dan bahkan pemerintah juga menambah likuiditas, jadi kita lihat sekarang kondisinya juga sudah mulai mereda," terang Destry.
Sinergi kebijakan moneter dan fiskal tersebut mulai terlihat hasilnya. Kebutuhan perbankan terhadap fasilitas repo BI menurun seiring membaiknya kondisi likuiditas antarbank.
"Jadi kita lihat sekarang kondisinya juga sudah mulai mereda, dimana repo kami juga akhirnya turun, karena likuiditas sudah cukup, sehingga antar-bank juga mereka mulai mengurangi transaksi repo, sehingga posisi repo sekarang sudah mencapai sekitar Rp800-an triliun, dan juga kita lihat IndONIA-nya juga sudah turun saat ini di level sekitar 6,15%," jelas Destry.
Destry menegaskan kondisi likuiditas perbankan secara umum masih berada dalam level yang sehat. Hal itu tercermin dari sejumlah indikator utama yang tetap kuat.
"Ini menandakan likuiditas kita makin membaik. Kita lihat beberapa indikator seperti AL per DPK yang masih di atas 24%, kemudian permodalan bank juga masih kuat 23% lebih, dan juga kalau kita lihat beberapa indikator lainnya yang terkait dengan likuiditas secara keseluruhan masih cukup baik dengan NPL yang terjaga," ungkap Destry.
Likuiditas domestik juga mendapat tambahan dukungan dari derasnya arus modal asing yang masuk ke instrumen keuangan Indonesia, khususnya Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Kemudian ditambah lagi adanya dana asing yang masuk yang cukup signifikan, jadi kalau kita lihat sepanjang tahu ini, kita lihat untuk SBN dan juga SRBI, kita lihat sudah mencapai inflow sebesar Rp192 triliun," pungkas Destry.
Perbaikan likuiditas ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas sistem keuangan nasional, terutama setelah pasar sempat menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global dan kebutuhan likuiditas yang meningkat pada pertengahan tahun.
(haa/haa) Add
source on Google