BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Justru Menguat Tipis ke Rp17.875/US$

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Rabu, 22/07/2026 15:07 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2026), setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup terapresiasi tipis 0,03% ke posisi Rp17.875/US$. Penguatan ini berbanding terbalik dengan pergerakan pada awal perdagangan, ketika mata uang Garuda dibuka melemah 0,22% di level Rp17.920/US$.


Penguatan ini sekaligus membuat rupiah mencatatkan apresiasi selama dua hari perdagangan beruntun. Pada Selasa (21/7/2026), rupiah ditutup menguat 0,28% ke level Rp17.880/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia per pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,08% ke level 101,092. 

Penguatan rupiah terjadi di tengah keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuannya. Dalam rapat dewan gubernur (RDG BI) yang berlangsung pada 21-22 Juli 2026 memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 4,75%, sedangkan Lending Facility bertahan di level 6,50%.

Adapun, dengan keputusan menahan suku bunga acuan ini, Bank Indonesia (BI) mendorong kebijakan lain, yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing ke pasar uang Indonesia dalam rangka tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas," papar Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam konferensi pers RDG Bulanan BI, Rabu (22/7/2026).

Perry juga menjelaskan, keputusan tersebut konsisten dengan upaya bank sentral memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global.

"Serta mempertahankan inflasi pada kisaran sasaran 2,5% plus minus 1%," kata Perry.

Keputusan tersebut berbeda dari proyeksi mayoritas pelaku pasar. Berdasarkan polling CNBC Indonesia terhadap 14 institusi dan lembaga, delapan responden sebelumnya memperkirakan BI Rate naik 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%. Sementara enam responden lainnya memproyeksikan suku bunga tetap di level 5,75%.

BI mempertahankan suku bunga setelah melakukan pengetatan selama tiga bulan sebelumnya. Sejak Mei 2026, bank sentral telah menaikkan BI Rate secara kumulatif sebesar 100 bps hingga mencapai 5,75% pada Juni.

BI menegaskan kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap bersifat mendukung pertumbuhan ekonomi.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jelang Keputusan Penting BI, IHSG & Rupiah Kompak Melemah