Tembus 6.300! Ini Penyebab IHSG Lari Kencang Hari Ini

mkh, CNBC Indonesia
Selasa, 21/07/2026 11:54 WIB
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan reli pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Hingga sekitar pukul 11.45 WIB, IHSG menguat 1,18% atau 73,82 poin ke level 6.305,60, sekaligus menembus level psikologis 6.300.

Penguatan indeks ditopang aksi beli yang cukup merata. Sebanyak 400 saham menguat, 248 saham melemah, sementara 317 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp10,28 triliun dengan volume perdagangan 27,39 miliar saham.

Dari sisi sektoral, properti menjadi pemimpin penguatan dengan kenaikan 5,46%. Selanjutnya disusul bahan baku 2,08%, energi 2,05%, utilitas 1,99%, serta teknologi 1,05%. Satu-satunya sektor yang berada di zona merah adalah kesehatan yang turun 1,28%.


Dari sisi kontributor indeks, penguatan IHSG dipimpin oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang menyumbang sekitar 10,13 poin terhadap kenaikan indeks. Kontributor terbesar berikutnya adalah PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) sebesar 6,43 poin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 5,85 poin, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 5,16 poin, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar 2,95 poin.

Sementara itu, saham yang menjadi pemberat terbesar indeks antara lain PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), dan PT United Tractors Tbk (UNTR). Akan tetapi secara bobot tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan saham-saham yang melaju kencang. 

Secara sentimen, reli IHSG masih ditopang optimisme investor terhadap kondisi domestik menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan ini.

Di sisi lain, kepastian S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil juga masih menjadi katalis positif bagi pasar.

S&P menilai tekanan terhadap posisi fiskal dan eksternal Indonesia akibat tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan rupiah, hingga meningkatnya ketidakpastian kebijakan hanya bersifat sementara.

Lembaga tersebut memperkirakan kondisi tersebut akan membaik seiring potensi pemulihan harga komoditas serta upaya pemerintah menjaga disiplin fiskal.

Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak, serta penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury yang berpotensi memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jurus MI Keruk Cuan Investasi di Era Perang - Gejolak Rupiah