Harga Minyak Merosot, Pasar Menanti Hasil Mediasi AS-Iran

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
Selasa, 21/07/2026 10:35 WIB
Foto: REUTERS/Liz Hampton

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (21/7/2026) pagi setelah reli tajam dalam sepekan terakhir. Pelaku pasar mulai mempertimbangkan peluang meredanya konflik di Timur Tengah, meski risiko gangguan pasokan masih tinggi.

Menurut  Refinitiv, pada Selasa (21/7/2026) pukul 09.25 WIB, harga Brent berada di US$88,62 per barel, turun 0,67% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$89,22 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di US$82,98 per barel, turun 0,30% dari penutupan Senin di US$83,23 per barel.

Pelemahan ini terjadi setelah sehari sebelumnya Brent sempat kembali menembus level psikologis US$90 per barel. Kenaikan tersebut didorong eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak dari kawasan Teluk.


Dalam perdagangan terbaru, fokus pasar mulai bergeser ke jalur diplomasi. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima proposal dari mediator untuk gencatan senjata selama 10 hari. Langkah itu bertujuan menyelamatkan kesepakatan sementara yang ditandatangani pada 17 Juni sebagai jalan menuju perundingan damai yang lebih permanen.

Prospek perundingan tersebut membatasi kenaikan harga minyak meski situasi keamanan di kawasan belum benar-benar mereda.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan Iran masih saling melancarkan serangan. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi dimulainya gelombang serangan terbaru ke wilayah Iran, sementara Garda Revolusi Iran kembali menyerang aset militer Amerika di kawasan.

Risiko geopolitik bahkan bertambah setelah kelompok Houthi di Yaman menyatakan akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Ancaman ini dinilai memperluas potensi gangguan terhadap rantai pasok energi global karena Arab Saudi merupakan eksportir minyak terbesar dunia.

Analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan ancaman blokade tersebut meningkatkan risiko terganggunya ekspor minyak dari produsen utama dunia. Namun, pasar masih menunggu apakah upaya diplomasi mampu menghasilkan deeskalasi yang nyata sehingga reli harga minyak untuk sementara tertahan.

Sebelumnya, harga minyak melonjak tajam sepanjang pekan lalu. Brent menguat hampir 16%, sedangkan WTI naik sekitar 15,5%, menjadi kenaikan mingguan terbesar masing-masing sejak April dan awal Maret.

Lonjakan itu dipicu meningkatnya gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga setiap hambatan di kawasan tersebut langsung memengaruhi persepsi risiko pasokan global.

Data LSEG yang dikutip Reuters memperlihatkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz sempat turun menjadi hanya empat kapal pada Minggu dari delapan kapal sehari sebelumnya. Beberapa kapal tanker minyak memang masih memasuki selat tersebut untuk memuat minyak, tetapi volume pelayaran yang menurun membuat pasar tetap mewaspadai potensi gangguan pasokan.

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menantikan data persediaan minyak Amerika Serikat. Survei pendahuluan Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS turun pada pekan lalu, seiring berkurangnya persediaan bensin, sementara stok distilat diperkirakan meningkat.

CNBC Indonesia 


(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: AS Vs Iran Memanas, Harga Minyak & Batu Bara Ikut 'Mendidih'