Rupiah Ditutup Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.930

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Senin, 20/07/2026 15:08 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Garuda gagal mempertahankan momentum positifnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (20/7/2026).

Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,25% ke posisi Rp17.930/US$. Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah terdepresiasi 0,42% ke level Rp17.960/US$, kemudian sempat melemah lebih dalam hingga menyentuh Rp17.990/US$.


Rupiah perlahan memangkas pelemahannya menjelang penutupan. Pergerakan hari ini berbanding terbalik dengan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (17/7/2026), ketika rupiah menguat tajam 0,53% ke posisi Rp17.885/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau stabil di level 100,765 pada pukul 15.00 WIB.

Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkatkan kehati-hatian investor, sekaligus mendorong kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman masih berada di level yang tinggi. Ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, pun menjadi lebih terbatas.

Dari sisi kebijakan moneter, pasar masih memperkirakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 29 Juli mendatang.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menahan suku bunga mencapai 85,6%, meningkat tajam dibandingkan 61,5% pada sebulan lalu.

Namun, arah kebijakan The Fed masih dibayangi perbedaan pandangan di antara para pejabatnya. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack pada Jumat lalu bergabung dengan sejumlah pejabat lain yang menilai suku bunga mungkin perlu dinaikkan untuk meredam tekanan inflasi yang masih tinggi.

Pernyataan tersebut membuka peluang terjadinya perdebatan sengit dalam pertemuan The Fed mendatang, sekaligus kemungkinan munculnya perbedaan suara pada rapat kedua Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed.

Selain sentimen eksternal, pasar juga tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akan mengumumkan keputusan mengenai suku bunga acuan pada Rabu (22/7/2026).

BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar total 100 basis poin sejak Mei 2026. Kenaikan terakhir sebesar 25 basis poin dilakukan pada 18 Juni 2026, setelah sebelumnya BI menggelar rapat di luar jadwal pada 9 Juni untuk merespons tekanan terhadap rupiah.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jurus Cari Cuan Investasi Saat IHSG & Rupiah Hadapi Tekanan