Dibuka Naik Tipis, IHSG Langsung Balik Arah Turun 0,4% ke 6.081
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis pada perdagangan Jumat (17/7/2026), di tengah dominasi sentimen global yang masih dibayangi aksi jual saham teknologi dan semikonduktor di Amerika Serikat (AS) dan kawasan Asia Pasifik.
Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG naik 4,63 poin atau 0,08% ke level 6.112,84. Sebanyak 218 saham menguat, 74 saham melemah, dan 331 saham bergerak stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 144,64 miliar yang melibatkan 193,17 juta saham dalam 38.282 kali transaksi.
Meski demikian selang beberapa menit setelah pasar buka IHSG langsung balik arah ke zona merah dan melemah 0,40% ke level 6.081.
Adapun emiten yang paling ramai ditransaksikan hari ini adalah BBCA, BMRI, ASIi, TPIA dan PRDL.
Mengakhiri pekan perdagangan pada Jumat pagi ini, pelaku pasar global dan domestik disuguhkan dengan rilis serangkaian data makroekonomi krusial yang dipublikasikan pada hari Kamis kemarin.
Dari dalam negeri, iklim ekonomi menunjukkan performa impresif yang ditandai dengan rilis capaian investasi kuartal kedua yang mencetak rekor baru, serta peresmian eksekusi proyek gas raksasa di Maluku.
Sementara itu, dari Amerika Serikat, rilis data pasar tenaga kerja dan angka konsumsi ritel memberikan konfirmasi mengenai ketahanan ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Sementara itu, bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Jumat (17/7/2026), seiring aksi jual yang melanda saham-saham semikonduktor global setelah laporan keuangan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) memicu kekhawatiran investor.
Selain itu, melansir CNBC, pasar juga mencermati pelemahan Wall Street yang masih dibayangi volatilitas sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,6% pada awal perdagangan, sementara Topix melemah 0,3%. Di Australia, indeks acuan S&P/ASX 200 terkoreksi 0,2%, sedangkan bursa Korea Selatan tutup karena libur nasional.
Tekanan di pasar dipicu anjloknya ETF VanEck Semiconductor (SMH) yang merosot hampir 4% setelah saham TSMC turun lebih dari 2% usai merilis laporan kinerja kuartal II. Meski laba bersih perusahaan melonjak dibandingkan periode yang sama tahun lalu, TSMC juga menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) sepanjang tahun ini sehingga memicu kehati-hatian investor.
Pelemahan TSMC turut menyeret saham-saham semikonduktor lainnya, termasuk Marvell Technology, STMicroelectronics, dan Micron. Penurunan pada Kamis membuat ETF SMH telah merosot 6,9% sepanjang pekan ini dan berada di jalur untuk mencatat pelemahan mingguan ketiga dalam empat pekan terakhir.
Koreksi di sektor chip juga membebani indeks utama Wall Street sepanjang pekan berjalan. Indeks S&P 500 turun 0,6%, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 0,2% dan Nasdaq terkoreksi 1,5%.
Meski perdagangan saham AI, khususnya sektor semikonduktor, tengah mengalami tekanan, S&P 500 masih bertahan sekitar 1% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada awal Juni. Hal ini menunjukkan pasar saham AS secara keseluruhan masih relatif tangguh di tengah aksi ambil untung pada saham-saham teknologi.
(fsd/fsd) Add
source on Google