MARKET DATA

Jurus BI Berhasil! SBN dan SRBI Kebanjiran Dana Asing Rp 105 Triliun

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
15 July 2026 18:40
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti saat menyampaikan pemaparan dalam Investment Forum 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa ketidakpastian global yang tinggi menjadi pemicu arus modal asing keluar di kuartal I-2026. Arus keluar yang kuat terjadi di pasar saham.

Hal ini diungkapkan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti dalam Investment Forum 2026 yang diadakan CNBC Indonesia di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/7/2026).

"Kami melihat karena memang persepsi sehingga menyebabkan risk premi meningkat di RI," kata Destry.

Alhasil, BI menaikkan suku bunga guna me-repricing portofolio pasar uang Indonesia, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Sejak Mei hingga Juni 2026, BI menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin (bps). Dari kebijakan ini, SBN dan SRBI mengalami repricing. Terbukti, dari data BI, telah terjadi arus masuk atau inflow di SBN pada Juni hingga awal Juli 2026 sebesar Rp 33 triliun dan SRBI sebesar Rp 72 triliun. Dengan demikian, totalnya mencapai Rp 105 triliun pada periode tersebut. 

"Secara keseluruhan SBN inflow Rp 17,7 triliun karena kuartal I negatif dan SRBI Rp 174 triliun, di saham ada repricing sehingga inflow Rp 132 triliun," papar Destry.

Dari pengalaman kemarin, Destry menegaskan ketika terjadi outflow, BI perlu melakukan upaya menjaga persepsi pasar (anchoring). Upaya ini harus bersifat frontloading guna mengantisipasi kondisi ke depan, termasuk antisipasi inflasi.

"Ini mendasari juga kami lakukan keputusan itu karena harus ada repricing asset portofolio kita (melalui BI Rate)," jelas Destry.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article BI: Laporan S&P Cerminan Confidence Investor Global Terhadap RI


Most Popular
Features