Setelah Pengumuman S&P, Saham BMRI Naik 4,17%, BBNI 3,22%, BBRI 2,87%

mkh, CNBC Indonesia
Senin, 13/07/2026 16:51 WIB
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (8/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Saham-saham bank jumbo menjadi motor utama penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (13/7/2026). Menjelang penutupan sesi, hampir seluruh saham bank berkapitalisasi besar melesat lebih dari 2%, sehingga menjadi kontributor terbesar kenaikan indeks.

Berdasarkan data perdagangan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memimpin penguatan dengan naik 4,17% ke 4.250. Kenaikan ini menjadikan BMRI sebagai penyumbang terbesar kenaikan IHSG dengan kontribusi 13,88 poin.

Di posisi berikutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 2,87% ke level 2.870 dan menyumbang 11,68 poin terhadap kenaikan indeks.


Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik 3,22% ke 3.530, memberikan tambahan 3,63 poin bagi IHSG.

Secara keseluruhan, IHSG ditutup menguat 1,92% ke level 6.037,84. Penguatan sektor perbankan menjadi pendorong utama reli indeks, dengan empat saham bank besar menyumbang lebih dari 33 poin terhadap kenaikan IHSG.

Saham tiga bank jumbo tersebut melesat setelah lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Sementara itu, prospek (outlook) Indonesia tetap berada pada level stabil.

Dalam laporan yang dirilis pada 13 Juli 2026, S&P menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia, baik dari sisi fiskal maupun eksternal, masih bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan.

"Kami menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang tetap stabil," tulis S&P dalam laporannya.

S&P mengakui posisi fiskal dan eksternal Indonesia mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya ketidakpastian kebijakan, serta akumulasi utang. Meski demikian, S&P menilai tekanan tersebut tidak bersifat permanen.

Menurut lembaga pemeringkat tersebut, perbaikan harga komoditas serta langkah pemerintah dalam mengendalikan belanja berpotensi membantu memperkuat kembali kondisi fiskal dan eksternal Indonesia.

S&P juga menyoroti berbagai upaya pemerintah dalam memperbaiki tata kelola sektor sumber daya alam dan mineral. Langkah tersebut dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan kinerja ekspor dalam jangka panjang.

"Kami meyakini upaya pemerintah untuk memusatkan pengelolaan serta mengurangi kebocoran di sektor sumber daya alam dan mineral pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan negara dan penerimaan ekspor, terutama apabila implementasi kebijakan semakin membaik," tulis S&P.

S&P juga menuturkan prospek stabil juga mencerminkan harapan kami bahwa pemerintah terus memandang batas defisit tahunan sebesar 3% sebagai jangkar kebijakan yang penting.

Pengumuman dari S&P tersebut sekaligus membantah rumor pasar yang sebelumnya menyebut lembaga pemeringkat tersebut hendak menurunkan outlook untuk Indonesia. 


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ketidakpastian Masih Tinggi, IHSG Awal Pekan Bisa Terus Hijau?