Breaking News! IHSG Terbang 1,68%, S&P Pertahankan Outlook RI

mkh, CNBC Indonesia
Senin, 13/07/2026 15:56 WIB
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendadak terbang 1,68% atau 99,47 poin ke level 6.023,83 menjelang akhir perdagangan hari ini, Senin (13/6/2026).

Sebanyak 367 saham naik, 282 turun, dan 316 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 10,38 triliun, melibatkan 23,08 miliar dalam 2,59 juta kali transaksi. 

Terpantau sejumlah saham emiten Bakrie melonjak diikuti dengan saham konglomerat lain milik Prajogo Pangestu hingga grup Sinar Mas. 


IHSG terbang tinggi setelah lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Sementara itu, prospek (outlook) Indonesia tetap berada pada level stabil.

Dalam laporan yang dirilis pada 13 Juli 2026, S&P menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia, baik dari sisi fiskal maupun eksternal, masih bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan.

"Kami menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang tetap stabil," tulis S&P dalam laporannya.

S&P mengakui posisi fiskal dan eksternal Indonesia mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya ketidakpastian kebijakan, serta akumulasi utang. Meski demikian, S&P menilai tekanan tersebut tidak bersifat permanen.

Menurut lembaga pemeringkat tersebut, perbaikan harga komoditas serta langkah pemerintah dalam mengendalikan belanja berpotensi membantu memperkuat kembali kondisi fiskal dan eksternal Indonesia.

S&P juga menyoroti berbagai upaya pemerintah dalam memperbaiki tata kelola sektor sumber daya alam dan mineral. Langkah tersebut dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan kinerja ekspor dalam jangka panjang.

"Kami meyakini upaya pemerintah untuk memusatkan pengelolaan serta mengurangi kebocoran di sektor sumber daya alam dan mineral pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan negara dan penerimaan ekspor, terutama apabila implementasi kebijakan semakin membaik," tulis S&P.

Sementara itu, investor asing masih melanjutkan aksi jual bersih (net sell) di pasar saham domestik pada perdagangan sesi I Senin (13/7/2026). Berdasarkan data perdagangan, asing membukukan net sell sebesar Rp274,8 miliar di seluruh pasar.

Total nilai beli investor asing tercatat mencapai Rp1,4 triliun, sedangkan nilai jual mencapai Rp1,7 triliun, sehingga menghasilkan arus dana keluar bersih (capital outflow) sebesar Rp274,8 miliar.

Saham yang paling banyak dilepas investor asing pada sesi pertama dipimpin oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan estimasi nilai jual bersih sekitar Rp110,4 miliar. Di posisi berikutnya terdapat PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp94,5 miliar, disusul PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp42,6 miliar.

Di sisi lain, aksi akumulasi asing dipimpin oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan estimasi nilai beli bersih mencapai Rp70,7 miliar. Selanjutnya terdapat PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar Rp40,5 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp18,8 miliar, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Rp18,4 miliar, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) Rp15,1 miliar.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jurus Investor Amankan Likuiditas Saat Diadang Isu Perang -MSCI