IHSG Dibuka Naik 0,17%, Tapi Langsung Balik Arah ke Zona Merah

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 13/07/2026 09:06 WIB
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Senin (13/7/2026), di tengah dominasi sentimen global yang masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG naik 10,36 poin atau 0,17% ke level 5.934,72. Sebanyak 223 saham menguat, 96 saham melemah, dan 340 saham bergerak stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 161,45 miliar yang melibatkan 447,22 juta saham dalam 62.926 kali transaksi.

Namun selang beberapa menit setelah pasar buka, IHSG terpantau malah berbalik arah dan bergerak di zona merah.


Memasuki pekan perdagangan minggu ini, pelaku pasar global dan domestik akan memfokuskan perhatian pada serangkaian rilis data makroekonomi esensial.

Data-data tersebut diproyeksikan akan memberikan indikasi lanjutan terkait arah kebijakan moneter dari bank sentral utama, efektivitas langkah pemulihan ekonomi, serta dampak dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap stabilitas harga komoditas global.

Indikator yang akan dirilis mencakup kinerja perdagangan, inflasi tingkat konsumen dan produsen, pertumbuhan ekonomi, hingga posisi utang luar negeri. Berikut adalah rincian jadwal rilis data ekonomi yang perlu dipantau oleh para pelaku pasar pada minggu ini.

Sementara itu, bursa saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Senin (13/7/2026) meski ketegangan geopolitik masih membayangi sentimen pasar.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 0,28%, sementara Topix menguat 0,72%. Di Korea Selatan, Kospi bertambah 0,58% dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melonjak 1,84%, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia dibuka relatif datar.

Pendiri Fed Watch Advisors, Ben Emons, mengatakan potensi penutupan Selat Hormuz masih menjadi faktor yang membebani sentimen pasar. Namun, menurutnya selama belum ada prospek nyata penutupan jalur pelayaran tersebut dalam beberapa bulan ke depan yang dapat memicu krisis energi global, perhatian investor akan lebih tertuju pada data inflasi AS, perkembangan kebijakan moneter, serta musim laporan keuangan perbankan.

Musim laporan keuangan di Wall Street akan menjadi sorotan utama pekan ini dengan sejumlah bank besar AS dijadwalkan merilis kinerja keuangannya. Emiten seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo termasuk di antara 28 perusahaan anggota indeks S&P 500 yang akan mengumumkan hasil kuartal II-2026.

Selain sektor perbankan, investor juga menantikan laporan keuangan dari sejumlah perusahaan besar lainnya seperti Netflix, Johnson & Johnson, dan UnitedHealth. Kinerja emiten-emiten tersebut diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi dan daya tahan konsumsi di AS.

Ekspektasi terhadap musim laporan keuangan kali ini tergolong tinggi. Berdasarkan data FactSet, analis memperkirakan laba perusahaan anggota S&P 500 pada kuartal II-2026 tumbuh lebih dari 23% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Chief Investment Officer Raymond James, Larry Adam, mengatakan sektor teknologi akan menjadi perhatian utama investor, khususnya terkait keberlanjutan dorongan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap pertumbuhan laba perusahaan.

Menurutnya, meskipun muncul kekhawatiran perusahaan hyperscaler mulai mengurangi belanja modal untuk AI, rencana investasi diperkirakan tetap dipertahankan bahkan meningkat hingga 2028.

Adam menilai penggunaan AI telah memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha sehingga tren investasinya masih akan berlanjut. Ia mencatat penyebutan AI dalam paparan perusahaan di seluruh 11 sektor industri meningkat 98% secara tahunan dan mencapai rekor tertinggi, mencerminkan semakin luasnya adopsi teknologi tersebut.

Selain musim laporan keuangan, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS periode Juni yang dijadwalkan terbit pada Selasa waktu setempat. Data inflasi tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Akhir Pekan, IHSG Menguat Tapi Rupiah Tertahan di Rp 18.000/USD