Investor Abaikan Kondisi Geopolitik, Bursa Asia Dibuka Perkasa

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Senin, 13/07/2026 08:45 WIB
Foto: Bursa Jepang (Nikkei). (AP Photo/Koji Sasahara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Senin (13/7/2026) meski ketegangan geopolitik masih membayangi sentimen pasar.

Melansir CNBC, Investor untuk sementara mengabaikan risiko tersebut dan mulai mengalihkan fokus ke rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) serta musim laporan keuangan emiten kuartal II-2026.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 0,28%, sementara Topix menguat 0,72%. Di Korea Selatan, Kospi bertambah 0,58% dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melonjak 1,84%, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia dibuka relatif datar.


Pendiri Fed Watch Advisors, Ben Emons, mengatakan potensi penutupan Selat Hormuz masih menjadi faktor yang membebani sentimen pasar. Namun, menurutnya selama belum ada prospek nyata penutupan jalur pelayaran tersebut dalam beberapa bulan ke depan yang dapat memicu krisis energi global, perhatian investor akan lebih tertuju pada data inflasi AS, perkembangan kebijakan moneter, serta musim laporan keuangan perbankan.

Musim laporan keuangan di Wall Street akan menjadi sorotan utama pekan ini dengan sejumlah bank besar AS dijadwalkan merilis kinerja keuangannya. Emiten seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo termasuk di antara 28 perusahaan anggota indeks S&P 500 yang akan mengumumkan hasil kuartal II-2026.

Selain sektor perbankan, investor juga menantikan laporan keuangan dari sejumlah perusahaan besar lainnya seperti Netflix, Johnson & Johnson, dan UnitedHealth. Kinerja emiten-emiten tersebut diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi dan daya tahan konsumsi di AS.

Ekspektasi terhadap musim laporan keuangan kali ini tergolong tinggi. Berdasarkan data FactSet, analis memperkirakan laba perusahaan anggota S&P 500 pada kuartal II-2026 tumbuh lebih dari 23% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Chief Investment Officer Raymond James, Larry Adam, mengatakan sektor teknologi akan menjadi perhatian utama investor, khususnya terkait keberlanjutan dorongan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap pertumbuhan laba perusahaan.

Menurutnya, meskipun muncul kekhawatiran perusahaan hyperscaler mulai mengurangi belanja modal untuk AI, rencana investasi diperkirakan tetap dipertahankan bahkan meningkat hingga 2028.

Adam menilai penggunaan AI telah memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha sehingga tren investasinya masih akan berlanjut. Ia mencatat penyebutan AI dalam paparan perusahaan di seluruh 11 sektor industri meningkat 98% secara tahunan dan mencapai rekor tertinggi, mencerminkan semakin luasnya adopsi teknologi tersebut.

Selain musim laporan keuangan, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS periode Juni yang dijadwalkan terbit pada Selasa waktu setempat. Data inflasi tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jurus MI Keruk Cuan Investasi di Era Perang - Gejolak Rupiah