Rupiah Dibuka Menguat Tipis, Dolar AS Masih di Rp18.060
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (10/7/2026). Penguatan terjadi setelah rupiah sebelumnya menyentuh posisi terlemah dalam sebulan terakhir.
Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah dibuka menguat ke posisi Rp18.060/US$ atau terapresiasi tipis 0,06%.
Kondisi ini membalikkan posisi rupiah pada penutupan perdagangan sebelumnya, Kamis (9/7/2026), ketika mata uang Garuda ditutup melemah tajam 0,44% ke posisi Rp18.070/US$. Level tersebut sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah dalam sebulan terakhir.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,14% ke level 100,762.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini mendapat angin segar dari pelemahan indeks dolar AS di pasar global.
Dolar AS melemah untuk sesi kedua beruntun setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali melancarkan serangan. Meski ketegangan Timur Tengah kembali meningkat, pelaku pasar juga mencermati perkembangan harga minyak dan prospek inflasi global.
Iran disebut melancarkan serangan ke infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk setelah AS menyerang wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Eskalasi ini kembali menekan kesepakatan gencatan senjata yang baru berjalan sekitar tiga pekan.
Namun, harga minyak justru turun dari posisi tertingginya. Minyak mentah AS melemah ke US$71,57 per barel, sementara Brent turun ke US$75,72 per barel. Pelemahan ini terjadi karena pasar mulai mempertimbangkan risiko bahwa inflasi yang lebih tinggi dapat menekan pertumbuhan global, meski kekhawatiran pasokan energi masih ada.
Selain geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Risalah rapat The Fed periode 16-17 Juni, yang menjadi rapat pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh, menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi masih meningkat di antara para pejabat bank sentral.
Sejumlah pejabat bahkan melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga segera. Namun, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 28-29 Juli justru sedikit mereda.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan Juli turun menjadi 26,2%, dari 31% pada sesi sebelumnya. Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebesar 18,2% pada pekan lalu.
Dari sisi data ekonomi, klaim awal pengangguran mingguan AS turun 2.000 menjadi 215.000, lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 218.000. Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil.
Di sisi lain, kebutuhan arus modal asing juga masih menjadi perhatian di tengah dinamika pergerakan rupiah.
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai Indonesia masih membutuhkan tambahan aliran modal asing yang cukup besar untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran dan stabilitas nilai tukar.
"Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing yang cukup besar agar keseimbangan neraca pembayaran semakin kuat. Oleh karena itu kita tidak boleh cepat berpuas diri," kata Fakhrul dalam catatannya, Kamis (9/7/2026).
Menurut Fakhrul, Indonesia membutuhkan peningkatan posisi investor asing sekitar US$8-11 miliar pada paruh kedua 2026 untuk menjaga stabilitas rupiah. Keputusan investor asing, kata dia, akan sangat bergantung pada konsistensi konsolidasi fiskal, normalisasi imbal hasil obligasi pemerintah, serta kepastian arah kebijakan moneter.
Dia menilai stabilitas rupiah tidak cukup hanya ditopang intervensi pasar atau pengelolaan likuiditas. Kombinasi fiskal yang kredibel, pasar obligasi yang menarik, dan komunikasi kebijakan yang konsisten dinilai menjadi faktor penting untuk mengembalikan minat investor asing.
(evw/evw) Add
source on Google