AS Gempur Iran Lagi, Harga Minyak Dunia Sentuh Level Tertinggi 2 Pekan
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (9/7/2026) pagi seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Serangan baru Amerika Serikat (AS) ke Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan minyak global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Menurut Refinitiv pada pukul 09.35 WIB, harga minyak mentah Brent berada di posisi US$78,76 per barel, naik 0,95% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di US$78,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,98% ke level US$74,24 per barel dari posisi penutupan sebelumnya di US$73,52 per barel.
Kenaikan ini memperpanjang reli minyak dalam beberapa hari terakhir. Sejak awal Juli, Brent telah melesat sekitar 10,0% dari US$71,57 per barel menjadi US$78,76 per barel. Sementara WTI naik sekitar 8,3% dari US$68,58 per barel menjadi US$74,24 per barel.
Dilansir dari Reuters, harga minyak melonjak setelah militer AS melancarkan serangan baru ke Iran dengan alasan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka untuk lalu lintas pelayaran. Langkah tersebut muncul beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang telah berakhir.
Pasar sempat berharap konflik Iran dapat segera mereda dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali normal. Namun, serangan terbaru AS mengubah ekspektasi tersebut.
Selat Hormuz memiliki arti strategis bagi pasar energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang melintasi jalur sempit tersebut. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan itu langsung memunculkan kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan minyak di pasar internasional.
Analis IG Tony Sycamore mengatakan lonjakan arus minyak yang sempat melewati Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir diperkirakan mereda karena pemilik kapal mengambil sikap lebih hati-hati di tengah situasi keamanan yang kembali memburuk.
AS menyebut serangan terbarunya merupakan respons atas serangan terhadap tiga kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz pada Selasa lalu. Serangan AS mengguncang sejumlah kota di pesisir selatan Iran dan menyebabkan sebagian wilayah mengalami gangguan listrik.
Iran kemudian menyatakan telah menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan sebelumnya terhadap infrastruktur mereka.
Ketegangan yang meningkat turut memicu kewaspadaan di sektor pelayaran dan asuransi. Sejumlah perusahaan asuransi perang menyarankan perusahaan pelayaran menghentikan sementara perjalanan melalui Selat Hormuz. Sebagian lainnya tengah meninjau ulang syarat perlindungan asuransi setelah kembali terjadi serangan terhadap kapal di kawasan tersebut.
Kondisi ini membuat premi risiko geopolitik di pasar minyak kembali meningkat. Selama potensi gangguan di Selat Hormuz masih tinggi dan konflik Iran-AS belum mereda, pasar energi global diperkirakan akan tetap berada dalam kondisi waspada dan rentan terhadap lonjakan harga lebih lanjut.
CNBC Indonesia
(emb/emb) Add
source on Google