Rupiah Ditutup Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.990

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Rabu, 08/07/2026 15:04 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Garuda ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Di tengah meningkatnya eskalasi perang di Timur Tengah. 

Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah berakhir di zona merah dengan terkoreksi 0,11% ke level Rp17.990/US$. 


Rupiah sejatinya mengawali perdagangan pagi tadi di level Rp17.970/US$ atau stagnan dibandingkan penutupan sebelumnya. Namun, seiring berjalannya perdagangan, rupiah pun harus mengalami tekanan hingga sempat kembali menembus level psikologis di Rp18.000/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,07% ke level 100,952.

Pergerakan rupiah sepanjang hari masih dipengaruhi dinamika dolar AS di pasar global. Meski DXY terpantau melemah pada sore ini, indeks dolar AS sempat bertahan di zona penguatan sejak penutupan perdagangan kemarin hingga pembukaan perdagangan pagi tadi.

Dinamika ini terjadi akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Eskalasi terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan balasan ke Iran pada Rabu dini hari waktu setempat, menyusul laporan serangan terhadap sejumlah tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Serangan terbaru tersebut membuat pasar kembali khawatir terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak dan gas paling penting dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini dapat langsung memicu kekhawatiran terhadap distribusi energi.

Kenaikan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran inflasi. Untuk pasar keuangan, tekanan inflasi yang meningkat dapat membuat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Pelaku pasar kini juga menanti risalah rapat The Fed periode Juni yang akan dirilis pada Kamis dini hari waktu Indonesia. Risalah tersebut akan dicermati untuk melihat sinyal lanjutan mengenai arah kebijakan moneter AS, terutama setelah data tenaga kerja terbaru menunjukkan perlambatan.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli berada di 27,30%. Sementara itu, peluang suku bunga tetap dipertahankan di level saat ini mencapai 72,70%, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 masih berada pada level optimistis sebesar 117,8. Namun, angka tersebut lebih rendah dibandingkan IKK Mei 2026 yang tercatat sebesar 120,9.

Dalam laporan yang dirilis Rabu (8/7/2026), BI menyebut optimisme konsumen masih ditopang oleh persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi ke depan.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat sebesar 109,2, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) berada di level 126,4. Keduanya masih berada di atas level 100, yang menunjukkan konsumen masih optimistis, meskipun tekanannya mulai terlihat dibandingkan bulan sebelumnya.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jurus Cari Cuan Investasi Saat IHSG & Rupiah Hadapi Tekanan