IHSG Sesi 1 Naik 0,41%, Sedikit Lagi Sentuh Level 6.000

mkh, CNBC Indonesia
Selasa, 07/07/2026 12:32 WIB
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan penguatan hingga akhir perdagangan sesi I, Selasa (7/7/2026), ditopang penguatan saham-saham perbankan besar, emiten properti, serta saham konglomerasi.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 5.940,32, naik 24,25 poin atau 0,41% pada jeda siang. Sepanjang sesi pertama, indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.954,35 dan terendah 5.890,44.

Nilai transaksi mencapai Rp4,19 triliun dengan volume perdagangan 9,50 miliar saham dalam 797,8 ribu kali transaksi. Sebanyak 361 saham naik, 257 saham turun, dan 343 saham stagnan.


Dari sisi sektoral, penguatan IHSG dipimpin oleh sektor real estate yang melonjak 1,97%, diikuti bahan baku 1,31%, konsumer nonprimer 1,11%, serta keuangan yang menguat 0,69%. Sementara itu, sektor yang masih tertekan yakni utilitas (-0,23%), industri (-0,15%), dan teknologi (-0,11%).

Kontributor terbesar terhadap kenaikan indeks berasal dari saham-saham berkapitalisasi jumbo. AMMN menjadi penyumbang poin terbesar dengan kontribusi 5,91 poin, disusul BBRI (5,85 poin), ASII (4,49 poin), BBCA (4,42 poin), dan BRPT (3,78 poin). Penguatan juga didukung oleh MSIN, BBNI, INKP, JPFA, dan MORA.

Di sisi lain, kenaikan IHSG tertahan oleh pelemahan sejumlah saham unggulan. TLKM menjadi pemberat terbesar dengan menggerus 2,78 poin indeks, diikuti BRMS (-2,24 poin), INDF (-2,19 poin), BMRI (-1,64 poin), SRAJ (-1,18 poin), BREN (-1,16 poin), ICBP, MDKA, MBMA, dan AMRT.

Secara keseluruhan, dominasi sektor properti, bahan baku, dan saham perbankan berhasil mengimbangi tekanan pada saham telekomunikasi, komoditas, serta consumer defensive sehingga IHSG tetap bertahan di zona hijau hingga penutupan sesi pertama.

Adapun IHSG mulai rebound dari area bawah, tetapi belum cukup kuat untuk disebut sudah benar-benar bangkit. Kenaikan dari low Juni memang menunjukkan tekanan jual mulai mereda, namun pasar belum mendapat konfirmasi besar dari faktor yang lebih penting: foreign flow, rupiah, BI Rate, neraca dagang, dan momentum teknikal.

Secara teknikal, level penting IHSG berada di sekitar 6.450. Selama IHSG belum mampu mencetak weekly close di atas 6.450 dengan candle yang kuat, peluang kenaikan lanjutan belum terkonfirmasi. Area ini menjadi pembeda antara rebound biasa dan perubahan tren yang lebih serius.

Selama belum tembus, skenario paling masuk akal adalah IHSG bergerak sideways dalam beberapa waktu ke depan. Support penting ada di area 5.650, lalu 5.300-5.400. Jika support ini bertahan, IHSG bisa membangun base. Namun jika ditembus, risiko retest low masih terbuka.

Sementara itu, harga minyak mentah brent dijual di US$ 71,99 per barel pada perdagangan Senin kemarin. Harganya melemah 0,18%.

Sementara itu, harga minyak WTI ditutup d US$ 68,55 per barel atau turun 0,2%. Posisi ini adalah yang terendah sejak 27 Februari 2026 atau empat bulan terakhir atau sehari sbelum perang Iran meletus.

Pelemahan ini terjadi seiring arus pelayaran melalui Selat Hormuz yang terus pulih dan sinyal dari OPEC+ mengenai peningkatan pasokan minyak global.

Negara-negara anggota OPEC+ menyetujui kenaikan kuota produksi sebesar 188.000 barel per hari untuk bulan depan. Langkah ini merupakan kelanjutan dari pencabutan bertahap kebijakan pemangkasan produksi yang telah berlangsung lama, seiring membaiknya kondisi pasar.

Di sisi lain, indeks dolar melandai ek 100,853 atau posisi terendahnya sejak 19 Juni 2026. Melemahnya indeks ini akan menandai investor tengah menjual dolar AS. Investor diharapkan masuk dan membeli instrument di Emerging Market, seperti rupiah.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: SUNI & RAJA Bagi Dividen, BBTN Mau Buyback Saham