Tinggalkan Rp18.000, Rupiah Menguat ke Rp17.970 Pagi Ini

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Selasa, 07/07/2026 09:15 WIB
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (7/7/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengawali perdagangan pagi ini di zona hijau dengan menguat 0,08% atau terapresiasi ke level Rp17.970/US$.

Penguatan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (6/7/2026), rupiah melemah 0,22% ke level Rp17.985/US$.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,05% ke level 100,899.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi dinamika dolar AS di pasar global.

Dolar AS bergerak stabil setelah laporan tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan pada pekan lalu meredakan ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Sebelumnya, dolar AS mencatat kinerja mingguan terburuk sejak April. Tekanan terhadap greenback terjadi setelah data nonfarm payrolls menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS melambat tajam pada Juni.

Data tersebut, ditambah harga minyak yang lebih rendah, ikut menahan ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini.

Ekonomi AS hanya menambah 57.000 pekerjaan pada Juni, jauh di bawah perkiraan pasar. Sebagian ekonom menilai perlambatan penciptaan lapangan kerja yang lebih buruk dari ekspektasi kemungkinan merupakan dampak tertunda dari konflik Timur Tengah, yang sempat mendorong kenaikan harga bensin dan tekanan inflasi.

Kini, investor menanti rilis risalah rapat The Fed pada Rabu waktu setempat. Risalah pertemuan 16-17 Juni tersebut akan dicermati untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS ke depan.

Ketua The Fed Kevin Warsh sejauh ini belum banyak memberikan sinyal baru. Namun, dia sebelumnya menegaskan bahwa pihak yang memperkirakan bank sentral AS akan lebih longgar terhadap inflasi berpotensi kecewa, meskipun tekanan inflasi disebut mulai mereda.

Dari dalam negeri, pelaku pasar akan menantikan rilis cadangan devisa Juni 2026 pada hari ini, Selasa (7/7/2026) oleh Bank Indonesia. Sebelumnya, posisi cadangan devisa turun menjadi US$144,9 miliar akibat pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi stabilisasi rupiah.

Meski demikian, level tersebut masih dinilai sangat aman karena mampu membiayai 5,6 bulan impor. Pasar akan melihat apakah cadangan devisa kembali meningkat di tengah tekanan terhadap rupiah.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan