OPEC+ Tambah Produksi Lagi, Harga Minyak Malah Menguat
Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Senin pagi (6/7/2026), meski pelaku pasar masih mencerna keputusan aliansi produsen minyak OPEC+ yang kembali menaikkan target produksi mulai Agustus.
Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.20 WIB, harga Brent berada di US$72,24 per barel, naik 0,17% dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$69,00 per barel, menguat 0,45%.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah prospek bertambahnya pasokan global. Pada pertemuan Minggu (5/7), OPEC+ menyepakati peningkatan target produksi sebesar 188 ribu barel per hari (bph) mulai Agustus. Tambahan itu mengikuti kenaikan dengan besaran serupa yang telah diterapkan pada Juni dan Juli.
Meski demikian, tambahan produksi diperkirakan belum langsung membanjiri pasar. Selama beberapa pekan terakhir, produksi sejumlah negara Teluk masih berada dalam tahap pemulihan setelah konflik Iran-Israel sempat mengganggu aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Gangguan tersebut sebelumnya membatasi ekspor dari produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait sehingga realisasi produksi masih berada di bawah kuota.
Analis pasar IG Tony Sycamore menilai keputusan OPEC+ pada dasarnya sudah sesuai ekspektasi pasar. Di sisi lain, keluarnya Uni Emirat Arab dari OPEC serta proses normalisasi produksi pascakonflik membuat dampak kenaikan kuota dinilai belum terlalu besar terhadap pasokan riil dalam waktu dekat.
Data Reuters memperlihatkan produksi minyak OPEC pada Juni melonjak sekitar 3,3 juta barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 19,43 juta barel per hari, pulih dari level terendah dalam lebih dari dua dekade. Ekspor minyak negara-negara Teluk pun meningkat lebih dari 3 juta barel dibandingkan Mei hingga melampaui 10 juta barel per hari, walaupun volumenya masih sekitar 40% di bawah tingkat sebelum perang.
Dari luar kawasan Timur Tengah, pasokan Rusia turut menjadi perhatian pasar. Pengiriman minyak mentah dari pelabuhan-pelabuhan Rusia di wilayah barat mencapai rekor tertinggi pada Juni dan diperkirakan bertahan pada level tersebut sepanjang Juli. Peningkatan ekspor terjadi setelah serangan drone Ukraina merusak sejumlah kilang Rusia, sehingga lebih banyak minyak mentah dialihkan ke pasar ekspor.
Dengan mulai pulihnya ekspor dari kawasan Teluk, kenaikan target produksi OPEC+, serta derasnya ekspor Rusia, pasar kini menilai risiko kekurangan pasokan global semakin mereda. Faktor tersebut menjadi penyeimbang di tengah masih berlangsungnya pemulihan aktivitas pengiriman energi di kawasan Timur Tengah.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb) Add
source on Google