MARKET DATA

Putuskan Berhenti Jadi Polisi, Pria Ini Raup Rp216 Miliar Berkat ATM

Redaksi,  CNBC Indonesia
05 July 2026 12:00
Seorang pria menggunakan ATM Bank Melli Iran di depan sebuah bank di Teheran, Iran, 17 Juni 2026. (via REUTERS/Majid Asgaripour)
Ilustrasi ATM. (via REUTERS/Majid Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan penegak hukum asal San Francisco, Paul Alex, mengalami transformasi finansial yang luar biasa selepas menanggalkan lencana kepolisiannya. Melalui keputusan berani untuk merambah sektor bisnis jaringan anjungan tunai mandiri (ATM), ia kini sukses mengumpulkan kekayaan senilai US$12 juta atau sekitar Rp216 miliar.

Mengutip pemberitaan dari The Sun US pada Minggu (5/7/2026), rekam jejak karir Alex terbilang sangat cemerlang ketika masih bertugas di kepolisian, di mana ia pernah menjabat sebagai detektif di Satuan Tugas Narkotika hingga bergabung ke Unit Korban Khusus dan dinobatkan sebagai personel berprestasi.

Sebagai polisi, dia mendapatkan US$133.000 (Rp2,39 miliar) per tahun pada 2020. Jumlah itu belum dengan bonus dan benefit, dan membuat dia mengantongi US$272.000 (Rp4,89 miliar).

Meski begitu dia merasa keseimbangan hidup profesional dan personalnya mulai hilang. Alex harus bekerja selama 60-100 jam hampir setiap minggunya.

Akhirnya dia memutuskan untuk melakukan investasi pada aset bergerak. Jadi gaji yang dia dapatkan bulanan bisa dialokasikan untuk kebutuhan tersier, seperti berlibur, membeli mobil hingga investasi tambahan.

Alex pun mencari investasi apa yang cocok dengan dirinya. Setelah sempat ingin memilih bisnis properti, akhirnya dia memilih berinvestasi pada mesin ATM.

Ide ini didapatkannya dari rekan kerja pada 2017. Kemudian Alex mencari tahu hingga bergabung ke dalam grup di media sosial.

Bisnis ATM ini cukup berseberangan dengan pengetahuan yang dimilikinya, namun Alex tertarik karena modal yang dikeluarkan tidak terlalu banyak. Modal untuk membangun ATM sekitar US$3.000 (Rp54 juta) dengan risiko yang relatif minim.

Selain itu, pemilik mesin ATM juga dapat dengan mudah memindahkan ATM jika merasa lokasi penempatan mesin tidak terlalu menghasilkan. Pada 2018, akhirnya dia mulai bisnis ATM.

Untuk memilih lokasi, Alex mengambil cuti dua minggu. Daerah yang dicari adalah yang ramai agar dia dengan cepat bisa mendapatkan insentif saat membuka mesin ATM, seperti area turis dan lokasi padat seperti klub malam serta restoran.

"Ketika pertama kali memulai bisnis ini, saya banyak mendapat penolakan. Sangat sulit bagi saya untuk bekerja [sebagai polisi] ketika harus berpikir keras soal bisnis sampingan ini," ia menceritakan.

Pada awalnya, dia ingin membuka tiga titik mesin ATM. Ternyata 6 lokasi berhasil diamankan yang berada di toko minuman keras sebanyak 3 mesin ATM, 2 mesin di salon, dan 1 salon kecantikan.

Dengan cepat mesin-mesin ATM itu memberikan profit pada Alex. Hanya dalam tiga tahun, dia memutuskan keluar dari pekerjaannya di kepolisian dan menekuni bisnis ATM.

Pada awalnya, dia menaruh uang US$2.000-3.000 (Rp36 juta-Rp54 juta) Penghasilan minimal dari satu mesin saat itu sekitar US$200 (Rp3,6 juta), dan dia menyadari lokasi terbanyak melakukan transaksi berada di toko minuman keras.

Komisi dari lokasi-lokasi itu memberikan profit antara US$250-500 (Rp4,5 juta-Rp9 juta) per bulan per mesin ATM. Untuk lokasi lain, pendapatan yang didapatkan mencapai US$25-100 (Rp450 ribu-Rp1,8 juta) per mesin ATM.

Alex menjalankan bisnisnya dengan belajar bersama mentor dari Facebook. Gurunya itu disebut Alex telah lebih dulu menekuni bisnis dan sukses.

Dari masukan mentornya, dia memindahkan tiga mesin ATM dari salon kecantikan dan potong rambut ke supermarket dan toko minuman keras. Ternyata keputusan itu berbuah manis, profit bulannya meningkat hingga US$600 per bulan dan dalam waktu setengah tahun keuntungannya mencapai US$3.000 per bulan.

Strategi Bisnis ATM

Awal membangun bisnis ini, Alex menyadari perlu modal untuk menyediakan uang tunai di mesin ATM. Dia mendaftarkan dua kartu kredit untuk membeli mesin.

Kartu kredit yang dipilihnya adalah tidak memiliki bunga untuk satu tahun pertama. Dengan begitu dia punya waktu mengumpulkan uang tunai lebih banyak tanpa pengeluaran.

Alex juga menyadari mekanisme diskon yang didapatkan di awal tidak menguntungkannya. Sebab dia sebenarnya harus membayar komisi 30% dari pendapatannya.

Menyadari hal itu, dia memilih membeli langsung mesin ATM dari produsennya tanpa lewat agen. Tidak semua mesin baru dengan kisaran harga US$1.800-2.200 tergantung model, dan dia tak perlu membayar 30% untuk agen lagi.

Dua tahun setelah bisnisnya dimulai pada 2020, Alex tercatat memiliki 30 ATM di San Fransisco dengan keuntungan US$250-1.500 per bulan. Baru pada 2021, dia memilih berhenti jadi polisi setelah profit yang didapatkan berkali-kali lipat.

Setelah itu dia bertemu dengan provider ATM dan bekerja sama menyediakan mesin ATM. Dengan mekanisme ini, Alex menjadi lebih santai dalam mengatur bisnisnya.

Alex mengatakan pelajaran berharga dari pengalaman bisnisnya adalah berusaha untuk berinvestasi pada diri sendiri.

"Semuanya bermula dari rekan kerja saya yang memiliki ide ini. Saya lalu mengambil ide itu dan mencari tahu lebih dalam. Saya menggunakan berbagai media dan baca banyak sumber. Akhirnya, saya berani untuk mengeksekusinya hingga sekarang," tuturnya.

 

(tps/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bisnis Keluarga Bangkrut, Banting Setir Jadi Raksasa Rp 71 Triliun


Most Popular
Features