Harga Minyak Menguat Tipis, Pasar Pantau Perdamaian AS-Iran

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
Jumat, 03/07/2026 10:10 WIB
Foto: Sumur LLA-5 PHE ONWJ. (Dok. SKK Migas)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Jumat (3/7/2026) pagi, setelah sempat menyentuh level terendah sejak sebelum pecahnya konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan upaya perdamaian di Timur Tengah yang berpotensi menjaga kelancaran pasokan energi global.

Mengacu Refinitiv pada pukul 09.35 WIB, harga minyak Brent berada di US$72,13 per barel, naik 0,46% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) bertahan di US$68,69 per barel, relatif tidak berubah dari posisi penutupan Kamis. Kenaikan Brent memperpanjang penguatan setelah sehari sebelumnya ditutup di US$71,80 per barel.


Pergerakan minyak pekan ini relatif stabil. Dibandingkan penutupan pekan lalu, Brent hanya naik sekitar 0,19%, sedangkan WTI turun sekitar 0,78%. Fluktuasi yang terbatas ini terjadi setelah volatilitas tinggi akibat konflik di Timur Tengah mulai mereda, seiring munculnya harapan bahwa kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran dapat dipertahankan.

Reuters melaporkan pelaku pasar masih bersikap hati-hati menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan AS, ketika aktivitas perdagangan berpotensi lebih sepi. Optimisme terhadap proses perdamaian masih ada, meski investor tetap menunggu bukti nyata bahwa kondisi di kawasan benar-benar stabil. Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari, kini kembali beroperasi sehingga distribusi energi mulai pulih.

Dari sisi pasokan, produksi minyak Kuwait melonjak menjadi 1,65 juta barel per hari pada Juni, dari sekitar 580 ribu barel per hari pada Mei, setelah negara tersebut meningkatkan ekspor pasca-kesepakatan damai sementara AS-Iran. Di saat yang sama, sedikitnya lima kapal tanker raksasa yang mengangkut sekitar 10 juta barel minyak Arab Saudi telah keluar dari Selat Hormuz. Saudi Aramco pun mengubah sebagian skema penjualannya ke harga spot guna mempercepat distribusi minyak ke pasar Asia.

Membaiknya arus pasokan dari kawasan Teluk membuat premi risiko geopolitik yang sempat mengangkat harga minyak mulai berkurang. Meski demikian, pasar masih mewaspadai kemungkinan perubahan situasi di Timur Tengah yang dapat kembali mengganggu distribusi energi global. Selama perkembangan diplomatik tetap positif dan pasokan terus mengalir normal, ruang kenaikan harga minyak diperkirakan masih terbatas dalam jangka pendek.

CNBC Indonesia


(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harapan Damai Timur Tengah, Harga Emas - Batu Bara Terkoreksi