Ramai Isu Tarik Dana dari RI, Ini Penjelasan Bank-Bank Asing

Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
Jumat, 03/07/2026 08:35 WIB
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank-bank asing dikabarkan menarik uang dalam jumlah besar alias cash out dari Indonesia.

Hal ini diberitakan oleh media asing, Bloomberg pada 29 Juni lalu, yang melaporkan unit usaha Citigroup Inc., Standard Chartered Plc., dan HSBC Holdings Plc menarik total Rp11,5 triliun dalam dua tahun terakhir. Jumlah itu melebihi akumulasi laba mereka pada periode yang sama.


Menurut sumber dalam laporan tersebut, penarikan dana tersebut dilakukan karena kekhawatiran atas arah kebijakan negara.

Jika menilik laporan keuangan tahun lalu saja, PT Bank HSBC Indonesia mendistribusikan laba kepada pemegang saham dalam bentuk dividen.

Sepanjang 2025, HSBC membagikan dividen tunai senilai sekitar Rp2,95 triliun, terdiri atas dividen tunai tahunan Rp1,32 triliun dan dividen tunai khusus Rp1,64 triliun. Laporan tahunan perseroan menunjukkan dividen khusus tersebut berasal dari laba ditahan, sementara dividen tahunan merupakan penggunaan saldo laba tahun 2024 yang telah disetujui pemegang saham.

Mengenai penarikan dana ini, perwakilan HSBC Indonesia merespons dengan mengatakan bahwa penarikan ini seiring dengan kawasan Asia yang sedang menyesuaikan kembali peta perdagangan dan rantai pasoknya. Indonesia disebut memiliki peluang yang tepat untuk pertumbuhan kawasan.

"Indonesia membawa skala dan momentum bagi fase pertumbuhan Asia berikutnya. Seiring kawasan menyesuaikan kembali peta perdagangan dan rantai pasoknya, HSBC berada pada posisi yang unik untuk menghubungkan ambisi industrial Indonesia dengan modal global. Kami akan terus memprioritaskan fokus pada peluang pertumbuhan ini," kata perwakilan HSBC Indonesia kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/7/2026).

Sementara itu, laporan tahunan Standard Chartered Indonesia dan Citibank N.A. Indonesia (Citi Indonesia) menunjukkan adanya distribusi laba kepada kantor pusat sepanjang 2025. Namun, pada saat yang sama keduanya juga masih mencatat kenaikan saldo laba yang belum dipindahkan ke kantor pusat.

Standard Chartered Indonesia, mencatatkan pemindahan laba ke kantor pusat sebesar Rp388 miliar, dengan saldo laba yang belum diremitansikan sebesar Rp967,6 miliar, naik dari Rp442,4 miliar pada tahun sebelumnya.

Head of Corporate Affairs, Brand & Marketing, Standard Chartered Indonesia, Puni Anjungsari, mengatakan pihaknya mengetahui adanya laporan Bloomberg tersebut. Ia menjelaskan, remitansi yang dirujuk dalam artikel tersebut berasal dari laba pada tahun-tahun sebelumnya dan merupakan proses distribusi laba Standard Chartered yang dilakukan secara rutin.

Menurut Puni, seluruh remitansi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia dan telah memperoleh persetujuan sesuai ketentuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia kemudian menegaskan komitmen bank asal Inggris terhadap Indonesia tidak luntur.

"Standard Chartered tetap berkomitmen penuh terhadap Indonesia dan tidak ada perubahan atas komitmen tersebut. Kami terus mendukung pembangunan ekonomi Indonesia, melalui berbagai peran strategis yang kami jalankan, termasuk sebagai sovereign rating advisor bagi Republik Indonesia, serta melalui dukungan kami dalam memobilisasi pendanaan bagi Pemerintah Indonesia maupun entitas strategis nasional, termasuk Danantara," kata Puni kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/7/2026).

Sementara itu, laporan keuangan tahunan 2025 Citi Indonesia mencatatkan remitansi laba sebesar Rp2,44 triliun. Bank asal Amerika Serikat itu juga membukukan unremitted profit sebesar Rp10,17 triliun, meningkat dari Rp10,05 triliun pada akhir 2024.

Mengenai hal ini, CEO Citi Indonesia sekaligus Chairman Perhimpunan Bank-Bank Internasional Indonesia (Perbina), Batara Sianturi tidak segera menjawab pertanyaan CNBC Indonesia.

Perwakilan dari Citi Indonesia juga menolak untuk berkomentar.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Incar Pasar & Investor Gen Z, Bisnis Emas Makin Berkilau