Rupiah Lanjut Melemah, Dolar AS Ditutup Dekati Rp18.000
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah kembali menutup perdagangan hari ini dengan koreksi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah belum mampu memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS di pasar global.
Melansir Refinitiv, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (2/7/2026) ditutup melemah 0,32% terhadap greenback atau terdepresiasi ke posisi Rp17.988/US$. Posisi ini membuat rupiah tinggal selangkah lagi menuju level psikologis Rp18.000/US$.
Pelemahan rupiah sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan. Mata uang Garuda langsung dibuka melemah 0,14% terhadap dolar AS. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp17.960/US$ hingga Rp17.995/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah 0,21% ke posisi 101,177 per pukul 15.00 WIB.
Perjalanan rupiah pada perdagangan hari ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda masih cukup kuat.
Pelemahan DXY biasanya membuka ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah. Namun, ruang tersebut belum mampu dimanfaatkan. Rupiah justru tetap tertekan dan semakin mendekati level Rp18.000/US$.
Salah satu sentimen yang membebani rupiah datang dari data neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (1/7/2026) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit pada Mei 2026.
BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit terjadi karena nilai ekspor tercatat sebesar US$23,20 miliar, sementara impor mencapai US$24,81 miliar.
Catatan tersebut menjadi perhatian pasar karena neraca perdagangan Indonesia akhirnya kembali masuk zona merah setelah enam tahun bertahan surplus.
Defisit Mei 2026 menjadi defisit pertama sejak April 2020. Saat itu, Indonesia juga mencatat defisit perdagangan sebesar US$0,38 miliar.
Dengan demikian, tren surplus neraca perdagangan Indonesia selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020 resmi terputus.
Jika ditarik lebih jauh, defisit Mei 2026 juga menjadi yang terdalam sejak April 2019. Pada periode tersebut, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$2,33 miliar.
"Tidak adanya penyesuaian harga BBM domestik untuk menekan permintaan, ditambah harga minyak global yang tinggi dan rupiah yang lebih lemah, membebani neraca perdagangan. Ekspor turun 5% yoy, terutama akibat pelemahan pengiriman minyak sawit, besi dan baja, serta mesin, meskipun ekspor nikel tetap tangguh," tulis ekonom senior DBS Radhika Rao.
Kabar baiknya, ketegangan geopolitik yang mulai mereda telah membuat harga minyak acuan global turun tajam pada Juni. Ia menilai kondisi ini berpotensi mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia mulai kuartal III-2026.
(evw/evw) Add
source on Google