IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (1/7) di zona hijau dengan kenaikan 0,92% ke level 5.695,12. Penguatan indeks terutama didorong oleh kenaikan saham BREN, TLKM, dan BRPT. Di sisi lain, saham BBRI, BMRI, dan CPIN menjadi pemberat pergerakan IHSG.
Aktivitas investor asing masih menunjukkan aksi jual bersih dengan nilai Rp548,44 miliar di pasar reguler dan Rp577,79 miliar di seluruh pasar. Secara sektoral, tujuh dari sebelas sektor ditutup menguat, dipimpin sektor energi yang naik 2,61%, sementara sektor transportasi mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,91%.
Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah. Indeks Dow Jones turun tipis 0,03%, S&P 500 terkoreksi 0,22%, dan Nasdaq turun 0,66%.
Pelemahan tersebut dipengaruhi sejumlah sentimen, mulai dari defisit neraca perdagangan, kontraksi PMI manufaktur, hingga bertambahnya 16 saham yang dikenai suspensi karena belum menyampaikan laporan keuangan auditan tahun buku 2025 dan/atau belum menyelesaikan kewajiban pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan. Pergerakan pasar domestik juga masih dibayangi pelemahan ETF EIDO sebesar 0,27%, meski indeks MSCI Indonesia menguat 0,13%.
Dari sisi aksi korporasi, ada PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) yang mempercepat penyelesaian tiga proyek strategis di Kawasan Industri Pulau Obi, Maluku Utara. Ketiga proyek tersebut meliputi pembangunan fasilitas pengolahan nikel Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) ketiga, pabrik pengolahan batu kapur menjadi quicklime, serta fasilitas daur ulang sisa hasil pengolahan (tailing recycling).
Melalui entitas anak PT Karunia Permai Sentosa (KPS), proyek smelter RKEF ketiga dibangun dengan 12 lini produksi dan memiliki kapasitas terpasang mencapai 185.000 ton feronikel (FeNi) per tahun. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi penuh pada akhir tahun ini. Dengan tambahan kapasitas dari KPS, total kapasitas produksi feronikel Harita Nickel di Pulau Obi diproyeksikan meningkat menjadi 305.000 ton nikel per tahun pada akhir 2026.
Selanjutnya ada PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang kembali melaksanakan program pembelian kembali saham (buyback) dengan alokasi dana maksimal Rp2 triliun yang berasal dari kas internal perseroan. Program ini berlangsung pada periode 1 Juli hingga 30 September 2026.
Sebelumnya, pada periode 1 April–30 Juni 2026, perseroan juga menyiapkan dana Rp2 triliun untuk buyback. Namun realisasinya baru mencapai Rp860,35 miliar atau sekitar 35,53 juta saham, sehingga masih terdapat sisa anggaran Rp1,14 triliun yang tidak digunakan pada periode tersebut.
Per akhir kuartal I-2026, kas dan setara kas UNTR tercatat sebesar Rp20,56 triliun. Setelah memperhitungkan dana buyback yang telah direalisasikan sebelumnya, posisi kas diperkirakan sekitar Rp19,70 triliun.
Apabila seluruh anggaran buyback terbaru terealisasi, total aset diproyeksikan menjadi sekitar Rp180,50 triliun, sedangkan total ekuitas diperkirakan sebesar Rp99,20 triliun. Perseroan juga memperkirakan laba per saham (EPS) secara proforma meningkat menjadi sekitar Rp185 setelah pelaksanaan buyback.
Lalu ada juga PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) yang menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp25 per saham dengan total nilai sekitar Rp389,62 miliar. Nilai tersebut setara dengan dividend payout ratio sebesar 32,58% dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Sepanjang 2025, ERAA membukukan penjualan neto sebesar Rp76,61 triliun atau tumbuh 17,35% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih juga meningkat 15,83% menjadi Rp1,20 triliun.
Mengacu pada harga penutupan saham per 1 Juli di level Rp318 per saham, dividen tersebut mencerminkan dividend yield sekitar 7,86%. Perseroan menetapkan cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 7 Juli, sementara pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 31 Juli.
Rekomendasi Saham Hari Ini
-
NCKL - Buy 805-810 | TP 825-835 | SL 765
-
MBMA - Buy 496-505 | TP 515-525 | SL 475
-
ISAT - Buy 1775-1785 | TP 1805-1820 | SL 1695
-
ERAA - Buy 362-364 | TP 370-374 | SL 346
-
JPFA - Buy 1990-2010 | TP 2030-2090 | SL 1915
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ayh/ayh) Add
source on Google