Rupiah Berakhir di Zona Merah, Dolar AS Naik ke Rp17.930

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Rabu, 01/07/2026 15:06 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) dan Rupiah di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Tekanan terjadi di tengah rilis sejumlah data ekonomi domestik, mulai dari inflasi hingga neraca perdagangan Indonesia.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berakhir di zona merah dengan pelemahan 0,31% ke posisi Rp17.930/US$. Koreksi ini melanjutkan pelemahan rupiah pada perdagangan sebelumnya.


Sejak awal perdagangan, rupiah sudah berada di bawah tekanan. Mata uang Garuda dibuka melemah tajam 0,42% ke level Rp17.950/US$. Tekanan bahkan sempat semakin dalam hingga menyentuh level terlemah harian di Rp17.980/US$, atau tinggal selangkah lagi dari level psikologis Rp18.000/US$.

Namun, pelemahan rupiah sedikit berkurang menjelang akhir perdagangan hingga akhirnya ditutup di level Rp17.930/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,16% ke level 101,351.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini terjadi di tengah rilis data ekonomi domestik yang bernada negatif.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit terjadi karena nilai ekspor tercatat US$23,20 miliar, sementara impor mencapai US$24,81 miliar.

Neraca perdagangan Indonesia pun mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir. Defisit ini menjadi yang pertama sejak April 2020, ketika neraca perdagangan Indonesia juga mencatat defisit sebesar US$0,38 miliar.

Dengan demikian, catatan terbaru ini sekaligus mematahkan tren surplus neraca perdagangan Indonesia selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Jika ditarik lebih jauh, defisit Mei 2026 juga menjadi yang terdalam sejak April 2019. Pada periode tersebut, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$2,33 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan defisit pada Mei 2026 terutama disebabkan oleh komoditas migas. Neraca migas tercatat defisit US$3,76 miliar, dengan penyumbang utama berasal dari hasil minyak dan minyak mentah.

Selain neraca dagang, BPS juga mengumumkan inflasi Indonesia sebesar 0,44% secara bulanan atau month-to-month (mtm) pada Juni 2026. Secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi tercatat sebesar 3,34%.

Tekanan inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan kondisi Mei 2026 yang mencatat inflasi 0,28% mtm.

BPS mencatat kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi terbesar adalah sektor transportasi, yakni sebesar 2,29%. Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,28%.

"Terjadi inflasi sebesar 0,44%," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Realisasi inflasi ini lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar. Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 institusi, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 sebelumnya diperkirakan naik 0,30% secara bulanan.

Sementara itu, secara tahunan, inflasi diperkirakan mencapai 3,2%. Artinya, inflasi Juni 2026 baik secara bulanan maupun tahunan berada di atas perkiraan pasar.

Dari sisi eksternal, Dolar AS cenderung bertahan kuat seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dalam waktu dekat. Ekspektasi tersebut ikut ditopang oleh data lowongan kerja AS yang masih solid dan menunjukkan ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam.

Berdasarkan data U.S. Bureau of Labor Statistics, jumlah lowongan kerja pada Mei naik 9.000 menjadi 7,594 juta. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 7,296 juta, serta berada di atas data April yang direvisi menjadi 7,585 juta.

Data tenaga kerja yang masih kuat membuat pasar kembali mencermati arah kebijakan The Fed. Setelah menahan suku bunga pada rapat Juni di kisaran 3,50%-3,75%, sejumlah pejabat The Fed masih membuka ruang kenaikan suku bunga pada sisa tahun ini.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli berada di 33,70%. Sementara itu, peluang suku bunga tetap dipertahankan di level saat ini mencapai 66,30%.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan