MARKET DATA

Nilai Transaksi Anjlok, Bos Bursa Beberkan Solusi Perkuat Likuiditas

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
30 June 2026 11:05
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (8/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (8/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menilai persoalan likuiditas pasar modal Indonesia tidak dapat hanya mengandalkan pertumbuhan jumlah investor ritel. Dibutuhkan keseimbangan antara pasokan emiten berkualitas dan basis investor yang lebih beragam.

"Penyerapannya tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada retail investor kita," ujarnya saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Selasa (30/6/2026).

Jeffrey memaparkan, dari sisi penawaran (supply), pasar membutuhkan lebih banyak perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar untuk melantai di Bursa. Kehadiran emiten-emiten berkapitalisasi besar diyakini akan memperkuat daya tarik pasar sekaligus memberikan lebih banyak pilihan investasi bagi pelaku pasar.

Sementara itu, dari sisi permintaan (demand), jumlah investor ritel Indonesia dinilai telah tumbuh sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

"Salah satu suplai yang berkualitas tentu adalah perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi besar dalam jumlah yang banyak. Dari sisi demand, itu adalah jumlah investor retail kita yang sekarang sudah luar biasa besar," sebutnya.

Ia menyebut, BEI bersama para pemangku kepentingan melalui reformasi pasar modal berharap dapat meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia.

"Sehingga nanti investor asing bersama-sama dengan investor institusi domestik kita dan didukung oleh investor retail kita akan sama-sama menimbulkan dinamika yang sehat di pasar kita," sebutnya.

Jeffrey menambahkanC struktur investor yang ideal adalah ketika investor asing, investor institusi domestik, dan investor ritel sama-sama aktif berpartisipasi di pasar. Kombinasi ketiga kelompok investor tersebut akan menciptakan dinamika perdagangan yang lebih sehat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap satu kelompok investor tertentu.

"Apa yang sedang kita lakukan tentu untuk menarik lebih banyak lagi investor asing. Nah dari situ pasar kita akan makin dalam dan kita berharap kontribusinya terhadap perekonomian akan lebih nyata," ungkapnya.

Sebagai informasi, rata-rata nilai transaksi harian pada pekan lalu sudah turun 29,13% secara mingguan menjadi Rp 17,58 triliun.

Penurunan nilai transaksi sudah terjadi sejak awal bulan. Bila dibandingkan dengan pekan terakhir bulan lalu, rata-rata nilai transaksi harian sudah turun 38,06%.

Pada perdagangan kemarin, nilai transaksi hanya mencapai Rp 8,69 triliun, jauh di bawah rata-rata harian. 

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Seleksi Alam Dimulai, Tak Semua Emiten Akan Bertahan di Bursa RI


Most Popular
Features