IHSG Masih Tertekan, Ini Rekomendasi Saham yang Patut Dilirik
Jakarta, CNBC Indonesua - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (29/6) di zona merah dengan turun 1,28% ke level 5.820,79. Penguatan saham MPRO, ENRG, dan DSSA menjadi penopang utama indeks. Sebaliknya, pelemahan BBCA, TLKM, dan BREN membebani pergerakan IHSG.
Investor asing membukukan aksi jual bersih sebesar Rp854,10 miliar di pasar reguler dan Rp881,58 miliar di seluruh pasar. Dari sisi sektoral, 10 dari 11 indeks sektor ditutup melemah, dengan sektor infrastruktur mencatat penurunan terdalam, sementara sektor properti menjadi satu-satunya sektor yang berakhir di zona hijau.
Di pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat. Indeks Dow Jones naik 0,59%, S&P 500 menguat 1,18%, dan Nasdaq melonjak 2,07%. Meski demikian, sentimen di pasar domestik masih cenderung berhati-hati.
Sejumlah agenda penawaran umum perdana saham (IPO) pada awal Juli diperkirakan menyerap sebagian likuiditas, tercermin dari nilai transaksi harian yang hanya mencapai Rp9,10 triliun dengan volume perdagangan 15,48 miliar saham. Tekanan juga terlihat pada ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia yang masing-masing terkoreksi 1,77% dan 2,22%.
Dari sisi korporasi, ada PT Futura Energi Global (FUTR) yang terus memperkuat transformasi bisnis ke sektor energi baru terbarukan (EBT). Perseroan tengah mengembangkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 130 MW di Bali.
Di sisi lain, pemegang saham pengendali FUTR, PT Aurora Dhana Nusantara, juga memiliki aset pembangkit listrik panas bumi melalui anak usahanya, PT Sejahtera Alam Energy (SAE), yang telah mengantongi Power Purchase Agreement (PPA) berkapasitas 220 MW dengan nilai investasi sekitar US$80 juta.
Secara keseluruhan, FUTR memiliki pipeline proyek EBT dengan kapasitas indikatif mencapai 350 MW, terdiri atas 100 MW panas bumi, 100 MW PLTS, dan 150 MW pembangkit listrik tenaga minihidro. Dari sisi pergerakan saham, FUTR masih bergerak dalam kisaran (ranging) Rp143–Rp187.
Lalu, ada PT Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) yang berencana melepas 99,90% kepemilikan saham pada PT Sintesa Bara Gemilang (SBG), anak usaha yang bergerak di bidang pertambangan batu bara, kepada Indo Panca Borneo (IPB), pihak ketiga non-afiliasi.
Nilai transaksi mencapai Rp1,79 triliun, lebih tinggi dibandingkan hasil penilaian independen yang menempatkan nilai pasar SBG sebesar Rp1,73 triliun. Selisih tersebut berpotensi memberikan tambahan nilai sekitar Rp60 miliar.
Secara proforma, divestasi ini diperkirakan menurunkan total aset konsolidasi dari US$1,60 miliar menjadi US$1,36 miliar serta memangkas total liabilitas dari US$1,01 miliar menjadi US$776,78 juta.
Perseroan juga akan melepas kewajiban utang SBG kepada Bank Mandiri senilai US$238,93 juta yang jatuh tempo pada November 2031. Dengan demikian, rasio utang terhadap ekuitas (DER) diproyeksikan turun dari 169,33% menjadi 132,88%, sementara laba bersih tahun berjalan secara proforma meningkat dari US$1,50 juta menjadi US$7,32 juta.
Rencana transaksi tersebut masih menunggu persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Juni 2026, dengan target penyelesaian transaksi paling lambat 21 Desember 2026.
Selanjutnya ada PT Ciputra Development (CTRA) yang menetapkan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp36 per saham atau senilai total Rp667,28 miliar. Nilai tersebut setara dengan dividend payout ratio sebesar 25,05% dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Sepanjang 2025, CTRA membukukan pendapatan Rp12,62 triliun, naik 12,77% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih juga meningkat 25,24% menjadi Rp2,66 triliun, didukung peluncuran lebih dari 12 klaster baru di berbagai proyek unggulan. Sejalan dengan itu, laba per saham (EPS) dasar naik menjadi Rp144 dari Rp115 pada 2024.
Dengan harga penutupan saham di level Rp560 pada 29 Juni 2026, dividen tersebut mencerminkan dividend yield sekitar 6,43%. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 6 Juli 2026, sedangkan pembayaran dividen akan dilakukan pada 24 Juli 2026.
Rekomendasi Saham Hari Ini
-
UNTR - Buy 22450-22500 | TP 22725-23000 | SL 21475
-
SIDO - Buy 372-374 | TP 382-386 | SL 356
-
TBIG - Buy 1430-1440 | TP 1465-1485 | SL 1360
-
ARKO - Buy 5300-5350 | TP 5475-5550 | SL 5000
-
MTEL - Buy 490-494 | TP 500-510 | SL 470
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ayh/ayh) Add
source on Google